Home HL Jelang Ramadhan, Harga Bahan Pokok Berangsur Naik

Jelang Ramadhan, Harga Bahan Pokok Berangsur Naik

145
0
Dua penjual menata sayur mayur di Pasar Bondowoso, Jawa Timur, Rabu (29/1). Harga komoditas sayur-mayur mulai naik seperti harga wortel Rp.12.000 menjadi Rp.17.000/Kg, cabe rawit Rp.25.000 menjadi Rp.40.000/Kg, tomat Rp.9.000 menjadi Rp.17.000/Kg, kubis Rp.3000 menjadi Rp.9000/kg, bawah merah Rp.18.000 menjadi Rp.30.000/Kg akibat pasokan sayur-mayur dari daerah terhambat oleh banjir dan cuaca ekstrim yang membuat sayur mayur rusak. ANTARA FOTO/Seno/Koz/ama/14.

[quote]Laporan : erlan[/quote]

PALEMBANG, JI – Jelang ramadhan, harga barang kebutuhan pokok di Kota Palembang bergerak naik. Ini dipicu oleh minimnya pasokan dan tingginya permintaan. Di Pasar Lemabang Palembang, harga gula naik cukup tajam, dari Rp 11.000 per kg naik menjadi Rp 13 ribu per kg. Kenaikan juga diikuti telur dari Rp 18 ribu menjadi Rp 20 ribu. Sementara cabai merah dari Rp 22 ribu naik menjadi Rp 32 ribu per kg dan cabai rawit naik menjadi Rp 40.000 per kilogram dari sebelumnya Rp 30.000.
Selain itu, sejumlah komoditi lain juga ikut mengalami kenaikan, misalnya komoditi bawang merah dari Rp 44 ribu naik menjadi Rp 48.000 per kilogram. Bawang putih naik Rp 10 ribu per kg, menjadi r Rp 40.000 per kg. Sementara harga beras relatif stabil, begitu juga dengan daging stabil pada harga Rp 120 ribu per kg.
Menurut Asman, pedagang di Pasar Lemabang, naiknya harga gula dalam sepekan terakhir, dipengaruhi kenaikan ditingkat distributor. “Kalau penyebabnya saya kurang tahu, yang pasti ada kenaikan,” ujarnya.
Dikatakannya bisa saja kenaikan itu dipicu oleh tingginya permintaan saat ini, karena biasanya, jelang bulan puasa warga membeli dalam jumlah besar.
Sementara Saima, pedagang sayur mengatakan naiknya harga cabai dipengaruhi berkurangnya pasokan dari tingkat petani. “Mungkin saja saat ini produksi cabai ditingkat petani,” katanya.
Sementara Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop) Kota Palembang, Hardayani mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan Disperindag Provinsi Sumatera Selatan untuk melakukan operasi pasar jelang bulan puasa. Pasalnya, situasi seperti itu merupakan peristiwa yang biasa terjadi jelang hari-hari besar.
“Biasanya memang tiap tahun Pemkot Palembang mengadakan operasi pasar yang menjual sembako dan kebutuhan rumah tangga lainnya dengan harga yang murah dan terjangkau. Operasi pasar memang ditunggu oleh masyarakat apalagi jelang puasa dan lebaran,” kata Hardayani.
Pihaknya mengakui, sudah mensosialisasikan kepada pasar-pasar yang ada di Palembang untuk mengadakan operasi pasar. Dan para pedagang pun diimbau jangan menaikkan harga terlalu berlebihan. Pasalnya, banyak para calon pembeli mengeluh dengan harga yang tinggi tersebut.
“Semua pasar sudah kami layangkan surat untuk menekan harga yang merangkak naik. Kalau pun ada maka kami segera menurunkan tim ke lapangan untuk mensurvei dan menindak pedagang yang berbuat seperti itu lalu kemudian diperingati bahkan diberikan tindakan tegas,” jelasnya.
Sementara itu, Pengamat Ekonomi Unsri, Yan Sulistio menilai, kebiasaan peningkatan harga disebabkan komoditi sembako berada di sistem pasar. Karena itu, perlu kiranya pemerintah melakukan inspeksi mendadak (sidak) hingga pelaksanaan pasar murah.
“Menjelang puasa, volume kebutuhan masyarakat mening kat. Saat itu, pedagang akan memainkan sistem pasar. Saat sistem pasar ini dikendalikan pemerintah dengan menggelar pasar murah, terutama di kampung-kampung, tentu akan ada kemudahan masyarakat mengakses sembako,” kata Yan.
Untuk menindak pedagang nakal, kata dia, memang tidak bisa dilakukan maksimal. Karena ranah pemerintah bersama dengan lembaga Komisi Persaingan Pengawasan Usaha (KPPU) hanya sebatas lini pedagang besar. Misalnya, para pedagang melakukan monopoli atau men ciptakan kartel bagi pasar sembako.
“Penindakan juga diperlukan hanya saja pemenuhan kebutuhan masyarakat yang lebih kongkret. Karena mau tidak mau masyarakat akan meningkatkan berbagai pembelian sembako saat puasa atau jelang Lebaran,” pungkasnya.
Sementara, mengantisipasi lonjakan harga sembako di Sumsel saat menjelang bulan Ramadhan, Pemprov Sumsel mengumpulkan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Hal tersebut diungkapkan oleh Asisten II Bidang Ekonomi Keuangan dan Pembangunan Setda Sumsel, Yohanes H Toruan.
Yohanes mengatakan, pihaknya khususnya mendeteksi komoditas khususnya yang jangka pendek jelang bulan puasa terjadi harga melonjak. “Kelihatannya masing-masing terkendali kecuali ada beberapa komoditas rawan seperti daging sapi, bawang merah,”ungkapnya dia.
Ia juga menambahkan, selanjutnya akan dicari penyebabnya, apakah stok yang kurang, itu akan dihitung stoknya secara angka, jangan mengada-ada. “Hasilnya, segera, nanti sebelum akhir bulan atau tepatnya setelah tanggal 23 nanti (Mei,red) akan ada pertemuan lagi untuk komoditas utama penyumbang inflasi, ‘’ ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pemprov Sumsel, Permana, mengatakan, pihaknya melakukan invenstarisasi kebutuhan pokok penyumbang inflasi.
Komoditi diinventarisir yakni besar, gula, tepung terigu, telur, daging ayam, cabai dan barang. Namun komoditi paling prioritas yakni daging, cabai, beras dan bawang. ”Dari ini, kami ingin mengetahui berapa data rill ketersedian stok pangan di Sumsel dan berapa kebutuhan pangan selama ramadhan,” katanya.
Permana juga menuturkan, biasanya, jelang ramadhan pasti kekurangan stok pangan 10-20 persen. Ini terjadi karena tingginya permintaan sementara stok yang tersedia terbatas. Karena itu, perlu dilakukan rapat guna mengetahui langkah (antisipasi) yang diambil agar tidak terjadi lonjakan harga signifikan. ”Baik itu mendatangkan komoditi pangan dari provinsi lain atau pun dikirim dari negara lain,” jelasnya.
Yang jelas, kata Permana, komoditi seperti daging, cabai dan bawang harus di datangkan dari luar Sumsel. Mengingat, Sumsel bukanlah sentra produksi komoditi tersebut. Termasuk, jika terjadi kelangkahan stok pangan. Pihaknya pun siap untuk melakukan operasi pasar bekerja sama dengan Badan Urusan Logistik (Bulog) dan instansi terkait. “Jika naiknya cukup tajam, kami segera melakukan tindakan secepatnya untuk menyimbangkan harga,” ujar dia.
Pihaknya pun melakukan pengawasan intensif terhadap pasar tradisional dengan menurunkan tim. Setidaknya ada empat pasar tradisional dipantau yakni Cinde, Sekanak, Km 5 dan Lubuklinggau. Alasannya, empat pasar tersebut memasok barang dari pasar induk. Lalu, pasar cinde dan pasar lubuklinggau menjadi pasar penentu harga Sembilan Bahan Pokok (sembako) di Sumsel (editor:asep)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here