Home HL Alat Peraga Sarana Penunjang Pendidikan Inklusi

Alat Peraga Sarana Penunjang Pendidikan Inklusi

137
0

Laporan Hasan Basri

PALEMBANG, Jodanews –  Sarana dan prasarana menjadi salah satu penunjang yang sangat penting di dalam pendidikan inklusi, hal ini terlihat di  SD Negeri 30 Palembang, sejak didatangi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) beberapa tahun lalu, sekolah ini  telah memanfaatkan bantuan sarana peraga yang diberikan sebagai sarana taman bermain bagi siswa Inklusi atau Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Wakil Kepala SD Negeri 30 Palembang, Ema mengatakan pendidikan inklusi ini sudah lama diterapkan, sebab pendidikan inklusi tidak hanya mengajarkan anak dapat belajar, menulis atau menghitung, melainkan menjadikan anak-anak ini bisa bersosialisasi dengan teman sebayanya.

“Waktu tahun lalu SD Negeri 30 Palembang, perna kedatangan bapak Anies Baswedan yang dulunya menjabat Mendikbud, malahan bapak Mendikbud sangat apresiasi dengan pola pengajaran pendidikan SD Negeri 30 Palembang, soalnya tidak semua sekolah memberikan perhatian lebih ke anak didiknya,” katanya.

Makanya ada sebagian tanah dibuat tempat khusus, seperti dijadikan sarana alat peraga atau tempat bermain anak inklusi. Dalam permainan ini juga sebagian besar berbahan dari kayu atau papan, jadi sangat aman apabila siswa inklusi dalam bermain. “Dalam menghadapi siswa inklusi, pihaknya tidak menekan melainkan mereka diberika kebebasan bereksplorasi dengan keadaan sekitar sekolah. Makanya tempat praktek ini dijadikan sebagai taman bermain anak inklusi, kadang dalam bermain mereka ditemani temannya yang bukan inklusi,” jelasnya.

Lanjut Ema, Saat jam belajar juga ada beberapa siswa yang main keluar, jadi kami selalu mengarahkan untuk memanfaatkan alat peraga sebagai mainan mereka. “Perlu diketahui 1 kelas ini berjumlah 5 sampai 6 siswa inklusi, sehingga saat mereka berbaur dengan siswa lain, secara tidak langsung mereka pun menjadi siswa yang normal, akan tetapi ini juga membutuhkan waktu dan peran orang tua siswa melatih anaknya dirumah. Jika semua ikut membantu maka siswa inklusi bisa bermetamorfosi menjadi siswa pada umumnya,” paparnya.

Dikatakanya, saat ini SDN 30 memiliki kurang lebih 100 siswa siswi anak ABK yang terdiri dari kelas 1 hingga kelas 6. Kebanyakan mereka inklusi bermacam-macam ada yang hyper aktif, gagu, pendiam, dan lainnya. “Menghadapi siswa inklusi ini harus banyak besabar, sebab dalam penataran saat Inklusi dulu kami harus mengajari siswa ini dengan secara bertahap, mulai dari siswa yang tidak mau bersosialisasi dengan teman, baik itu menulis, membaca dan menghitung, memang kalau dilihat IQ tidak sama dengan IQ siswa lainnya, alhamdulilah setelah dilatih mereka mulai menurut, bahkan banyak anak ABK yang memiliki IQ sama denga anak normal lainnya,” pungkasnya. (Editor Jon Heri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here