Home HL Siswa Inklusi Mendapat Pendidikan Yang Sama

Siswa Inklusi Mendapat Pendidikan Yang Sama

296
0

Laporan Hasan Basri

PALEMBANG, Jodanews – SD Negeri 30 Palembang pada Tahun Pelajaran baru 2017/2018 ditunjuk sebagai sekolah rekomendasi bagi siswa disabilitas (inklusif) di Sumatera Selatan, di sekolah ini tak ada perlakukan perbedaan antara siswa umum dan siswa penyandang cacat. Hanya saja para guru sudah dibekali ilmu khusus pelatihan bagaimana dalam menangani pembelajaran khusus bagi siswa yang heterogen. Mulai dari siswa umum, maupun siswa disabilitas baik autis, hiperaktif, tuna rungu maupun tuna grahita. “Tahun ini ada 25 siswa inklusif dengan berbagai latar belakang. Kita tak kemudian menjadikan satu kelas khusus, tapi dibagi enam rombel, agar mereka berbaur,”ujar Kepala SD Negeri 30 Palembang, Nuraini, S.Pd. M.Si saat dibincangi di ruang kerjanya Rabu (26/7).

Diakui Nuraini memang dari siswa yang heterogen memang memiliki sikap dan tingkah yang beda, bahkan bisa lucu dan kadang menguji kesabaran. Apalagi, bagi siswa yang hyperaktif butuh kesabaran ekstra bagi para guru dalam penerapan belajar. “Kami bersyukur ya, meskipun mereka masih usia SD, persahabatan mereka kental sekali. Karena tak ada bully, bahkan mereka sering berbagi makanan sesama mereka. Pernah ketika siswa inklusif itu lama bacanya, itu dibantunya sama teman siswa umum,”tuturnya.

Disinggung mengenai prestasi bagi siswa inklusi, Nuraini mejelaskan tak sedikit siswa inklusif yang berprestasi, salah satu siswa inklusif pernah menduduki peringkat V siswa berprestasi tingkat Kota Palembang.

Sementara itu,  Asmarita salah satu orang tua siswa inklusif di SDN 30 Palembang mengatakan, dalam menyekolahkan anaknya di SD ini,  dirinya hanya mendapatkan informasi bahwa sekolah Dasar Negeri 30 telah mendapat rekomendasi sebagai sekolah  inklusif di Sumsel. “Makanya saya sekolahkan  anak saya  kesini, saat ini anak saya masih autis ringan. Mudah-mudahan anak saya bisa betah karena gurunya yang sabar dan ikhlas,”tutur ibu dari siswa autis Aditya Hutama Dharma ini.

Dia mengakui anaknya memang sulit berbicara dengan jelas, meski demikian anak saya ini cukup semangat dalam menimba ilmu, dia pernah berkata kepada saya kalau dia ingin menjadi dokter. “hal inilah yang menyemangati saya sebagai orang tua untuk menyekolahkan anak saya tersebut sampai keprguruan tinggi, “Semoga cita-cita mulia anak saya ini tercapai,”harapnya (Editor Jon Heri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here