Home HL Polda Sumsel Turunkan Tim Paminal Untuk Selidiki Penembakan Polisi Terhadap Satu Keluarga

Polda Sumsel Turunkan Tim Paminal Untuk Selidiki Penembakan Polisi Terhadap Satu Keluarga

166
0

Laporan Meida Sari

PALEMBANG, Jodanews  – Guna menindak lanjuti kasus penambakan yang dilakukan anggota polisi terhadap satu keluarga, Kapolda Sumsel, telah menerjunkan tim pengamanan internal (Paminal), untuk menyelidiki penembakan polisi terhadap satu keluarga di Lubuk Linggau, pada Selasa (18/4/2017) yang menyebabkan satu orang tewas dan lima lainnya luka parah.

Kapolda Sumsel, Irjen Pol Agung Budi Maryoto mengatakan tim penyelidik sudah memeriksa 11 saksi yang merupakan anggota polisi dan diketahui bahwa Brigadir K yang melepaskan tembakan terhadap para korban. “Brigadir K merupakan anggota Satuan Sabhara Polres Lubuk Linggau. Sementara yang mengejar mobil para korban terdiri dari lima anggota polisi termasuk Brigadir K menggunakan mobil patroli Mitshubishi Kuda dan dua sepeda motor,” terang Kapolda , Rabu, (19/4/2017).

Lanjut Kapolda menceritakan,  Brigadir K menggunakan mobil dengan anggota Satlantas Lubuk Linggau sebagai pengemudi. Sedangkan tiga anggota lainnya mengendarai motor, kemudian petugas kepolisian menghentikan mobil korban dan meminta korban untuk turun.  Kapolda juga mengungkapkan, saksi berinisial S (70) yang duduk tepat disamping sopir sudah menyuruh sopir berhenti, namun sopir tetap terus melaju dan menerobos pemeriksaan polisi. Meski tembakan peringatan telah diberikan, Namun tembakan peringatan tidak digubris juga, sehingga Brigadir K langsung melakukan penembakan terhadap mobil korban.

“Penembakan ini tidak ada perintah dari siapa pun. Namun penyelidikan tim masih dilakukan, jelasnya nanti setelah selesai penyelidikan,” tegasnya.

Dari lokasi kejadi pihaknya berhasil mengamankan barang bukti berupa senjata api jenis Senapan Serbu (SS1) tipe V2 serta tujuh selongsong peluru. “Plat nomor mobil tersebut juga ternyata yang BG 1488 ON itu palsu. Dan yang aslinya mobil tersebut berplat B dan milik sebuah yayasan di Jakarta, bukan pribadi. Nanti setelah para saksi korban bisa dimintai keterangan, akan ditanyakan kenapa tidak pakai plat asli,” ujar Agung.

Agung juga menegaskan, pihaknya tidak akan segan untuk memberikan sanksi terhadap Brigadir K bahkan akan menyerahkannya dihadapan hukum untuk mendapatkan tuntutan pidana. “Namun untuk itu, penyelidikan harus berjalan dan diselesaikan dulu. Kalau perlu PTDH (Pemberhentian Tidak Dengan Hormat), yang bersangkutan akan di PTDH. Tapi kita tidak boleh memutuskan mendahului penyelidikan,” jelasnya.

Selain itu dirinya menjelaskan, terjadinya penembakan tersebut tentunya akibat anggota polisi yang tidak menjalankan SOP dengan benar. “Kalau SOP dijalankan dengan benar, tidak akan terjadi yang aneh-aneh. Brigadir K juga akan kita tes psikologinya,” imbuhnya.

Selain itu, pihak kepolisian pun telah memberikan santunan terhadap keluarga Surini (55) yang tewas akibat beberapa luka tembakan. Kapolres Lubuk Linggau juga telah datang kerumah korban untuk melayat Rabu (19/4/2017) pagi.

 

Sedangkan Agung mengaku sudah menjenguk Indrayani (32) yang kritis dan dirujuk ke RSUP Dr Mohammad Hoesin untuk menjalani operasi. “Semua biaya pengobatan akan ditanggung Polda Sumsel hingga seluruh korban penembakan sehat,” katanya.

 

Indrayani (33) salah satu korban penembakan akhirnya dirujuk dari RS Sobirin ke RS Mohammad Hoesin dan tiba pada pukul 02.30 Wib dini hari, Rabu (19/4/2017). Kondisi Indra masih dalam kritis saat tiba di RSMH akibat tertembak di leher bagian depan.

Ditemui di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSMH, Andri (26), yang merupakan saudara sepupu dari Indra berujar, saat ini Indra masih dirawat secara intensif oleh tim medis RSMH. “Indra sudah sadar, cuma masih belum stabil. Belum bisa diajak berbicara,” ujarnya.

Terkait dengan kejadian penembakan yang dialami tujuh anggota keluarganya tersebut, dirinya tidak berani berkomentar banyak karena tidak mengetahui persis kejadian dan tidak berada di lokasi kejadian. “Saat kejadian saya sedang bekerja di Rejang Lebong. Dapat kabar ini sekitar jam 12.00 Wib, saya langsung datang ke RS Sobirin,”katanya.

Masih dikatakan Andri, pihak keluarga telah berkordinasi dengan kepolisian untuk mengusut tuntas kejadian naas yang telah membuat satu orang tewas dan lima lainnya terluka. “Biaya pengobatan ditanggung kepolisian. Tapi tetap keluarga menuntut kasus ini untuk diusut. Kami mohon kepada Kapolda dan jajaran kepolisian untuk benar-benar usut tuntas kasus ini,” harapnya.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, peristiwa yang terjadi pada Selasa (18/4/2017) sekitar pukul 10.00 Wib pagi itu berawal dari adanya razia rutin terprogram yang dilakukan anggota.

Sementara, Wakapolres Lubuklinggau Kompol Andi Kumara yang didampingi Kasat Reskrim AKP Ali Rojikin saat memberikan pernyataan resmi mengatakan, razia yang digelar itu guna mengantisipasi kejahatan 3C (curas, curat, dan curanmor) dengan lokasi yang sudah ditentukan. Sebelum kegiatan, anggota sudah dibriefing terlebih dahulu, termasuk masalah penggunaan senjata api, kalau tidak terpaksa betul, maka jangan gunakan senjata api.

Ia juga mengatakan, saat kegiatan berlangsung, anggota melihat ada kendaraan sedan warna hitam BG 1488 ON tak mau dihentikan. Bahkan sempat mau nabrak warga dan anggota. Karena curiga, anggota pun kemudian melakukan pengejaran terhadap mobil korban dengan menggunakan mobil polisi. Pengemudi sedan bukannya pelan atau berhenti, tapi malah melaju kencang dan lampu merah juga diterobos. Sehingga sempat terjadi aksi kejar-kejaran di jalan raya.

“Sampai di depan Bank Mandiri Simpang Periuk, mobil itu berhenti dan anggota keluarkan tembakan di situ, setelah sebelumnya ada tembakan peringatan,” ujar Andi.

 

Anggota sebutnya, kemudian meminta agar kaca mobil yang berwarna gelap diturunkan. Namun kaca tidak dibuka. Sehingga anggota melepaskan tembakan. “Anggota curiga kaca gelap, setelah terjadi (tembakan-red) ternyata di dalam tidak seperti dugaan kita. Anggota awalnya memang sudah curiga, dihentikan tidak mau, dikejar malah ngebut zig zag dan membahayakan pengguna jalan lainnya. Jangan-jangan pelaku 3C,” ujarnya.

Kemudian pihak kepolisian mengecek plat dari kendaraan korban, ternyata plat kendaraan korban tidak terdaftar Samsat. Sebagai anggota tentunya memiliki insting dugaan pelaku pencurian dan mengejar mobil korban.

Satu keluarga di dalam mobil Honda City hitam berpelat nomor BG 1488 ON tersebut terdiri dari tujuh orang. Mereka berasal dari Desa Blitar, Kecamatan Sindang Beliti, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. Akibat tembakan tersebut, Surini (55) meninggal dunia karena luka tembakan di beberapa bagian tubuhnya.

Sementara itu, beberapa anaknya mengalami luka tembak, yakni Diki (29) di bagian punggung, Indra (32) di tangan bagian kiri, Novianti (31) di lengan sebelah kanan dan Dewi Arlina (35) di lengan sebelah kiri. Cucu Surini, Genta Wicaksono (3) mengalami luka di atas telinga sebelah kiri karena diduga terserempet peluru. Dan seorang anak lainnya, Galih (6), tidak mengalami luka. Atas kejadian tersebut para korban langsung dibawa ke RS Sobirin. (Editor Jon Heri)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here