Home EKONOMI BKPM Gencarkan Investasi di Luar Pulau Jawa

BKPM Gencarkan Investasi di Luar Pulau Jawa

144
0

Laporan Ofie

PALEMBANG, Jodanews —  Potensi masuknya investasi di luar Pulau Jawa dipandang cukup besar saat ini. Sebab, sumber daya alam banyak berasal dari luar Pulau Jawa dibanding di Pulau Jawa. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengklaim akan terus berupaya untuk tingkatkan pemerataan penyebaran investasi di luar Pulau Jawa. Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal BKPM, Azhar Lubis mengatakan, saat ini investasi di Pulau Jawa mencapai 55 persen, lebih besar jika dibandingkan dengan investasi diluar Pulau Jawa yang persentasenya 45 persen. Hanya saja, saat ini tercatat persentase itu cenderung bakal bergeser, lima hingga sepuluh tahun kedepan persentase tersebut diprediksi bakal berubah. Yakni persentase investasi diluar Pulau Jawa bisa melebih investasi di Pulau Jawa. “Ini bisa terjadi, karena memang sumber daya alam sangat kaya diluar Pulau Jawa. Baik pertanian, pertambangan, perkebunan, perikanan, mineral dan sebagainya. Saat ini investasi yang ada di Pulau Jawa juga sudah banyak bergeser ke luar Pulau Jawa, kami yakin kedepan investasi diluar Pulau Jawa akan berkembang pesat,” ucap Azhar, usai Pembukaan Regional Investment Forum 2016 bertema “Exploring Sumatra’s Potential For Quality Investment” di Palembang, kemarin (26/7). Tumbuhnya investasi di Indonesia itu terdorong dari berkembangnya kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus yang dibangun di suatu daerah. Azhar menyebut, di Indonesia ada beberapa program prioritas yang digencarkan pemerintah pusat yakni, 9 kawasan ekonomi khusus dan 15 kawasan industri. Untuk kawasan ekonomi khusus di Pulau Jawa hanya ada 2 sementara sisanya yakni 7 kawasan ekonomi khusus berada diluar Pulau Jawa. Begitupun dengan kawasan industri, kata dia, ada 2 di Pulau Jawa dan sisanya 13 kawasan industri tersebar diluar Pulau Jawa. “Geliat pertumbuhan investasi juga ditentukan dari adanya ketersediaan sarana dan prasarana di suatu daerah. Seperti jalan, listrik, dan sebagainya. Potensi pertumbuhan investasi di Pulau Sumatra dinilai lebih tinggi dibanding pulau lainnya karena saat ini tengah dibangun infrastruktur berupa Tol Trans Sumatra. Sehingga bisa mendorong sektor pertumbuhan ekonomi disekitarnya,” jelas Azhar. Untuk itu, BKPM mengupayakan datangnya investor besar di Indonesia untuk menanamkan investasinya disetiap daerah. Melalui Regional Investment Forum 2016 yang menghadirkan calon investor dan investor eksisting asal Singapura, Australia, Jepang, Taiwan, Eropa, Tingkok dan sebagainya untuk melihat rencana pembangunan dan kndisi perekonomian di daerah-daerah yang ada di Indonesia. “Kita lakukan keep kepada para investor yang sudah tertarik tanam investasi di Indonesia dengan menjaga komunikasi serta kita aktifkan peran marketing officer BKPM untuk menghubungkan ke investor dari negara-negara di dunia,” jelasnya. Selain itu, BKPM juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah terkait untuk membangun dan menyiapkan integrated systemdi kawasan ekonomi khusus dan kawasan industri. Juga dibantu dengan adanya kebijakan-kebijakan terkait penanaman investasi di Indonesia. “Pemerintah pusat akan memberikan insentif bagi investor yang menanamkan modalnya diluar Pulau Jawa. Untuk KEK juga dapat insentif kalau mengimpor barang modal ke KEK dalam tiga tahun. Investor itu akan mendapat fasilitas bebas biaya masuk impor, pajak pertambahan nilai (PPN) impor. Intial cost ini diturunkan pemerintah,” jelasnya. Upaya mendorong geliat investasi itu juga dengan cara mengintensifkan kinerja 500 PTSP (pelayanan terpadu satu pintu) yang menyebar di Indonesia. Azhar menjelaskan, dari 15 kawasan industri dan 9 kawasan ekonomi khusus , sebagian besar sudah menunjukkan progres pembangunan. Namun, kata dia, masih ada sejumlah kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus yang belum terlihat fisiknya.  Seperti di kawasan industri di Kendal, sudah ada pengembang dari Singapura. Juga ada kawasan industri di Gresik yang sudah dibangun pelabuhan dan industri sudah muncul. Kawasan industri di Sulawesi seperti Bontai dan Morowali sudah ada pengolahan nikel. “Saat ini kan pemda tidak boleh mengekspor low material, sehingga harus diolah dulu,” cetusnya. Untuk kawasan ekonomi khusus pun sama. Azhar menyebut, sudah ada yang mulai jalan seperti KEK di Nusa Tenggara Barat dimana BUMN telah membangun Indonesa Tourism Development. “Memang semua kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus tidak bisa dibangun sekaligus, jadi memang membutuhkan waktu dan kesiapan, serta datangnya investor yang akan tanam investasi,” beber dia. Disebutkan Azhar, tahun ini BKPM menargetkan Rp594,8 triliun investasi yang masuk di Indonesia dan tahun depan ditarget Rp670 triliun. Dari Pulau Sumatra, kata dia, diyakini akan menyumbang 15 persen dari target realisasi investasi yang ada. “Nilai investasi ini diharap dapat menompang kesinambungan ekonomi nasional. Ini juga dapat menciptakan pekerjaan di wilayah Indonesia,” terang Azhar. Direktur Eksekutif Himpunan Kawasan Industri (HKI), Fahmi Shahab menuturkan, pihaknya sangat mendukung pertumbuhan industri diluar Pulau Jawa sebab saat ini di Pulau Jawa sudah mengalami crowded. “Pengembangan industri yang pertama itu di Medan, kemudian ke Pekanbaru. Kalau investor datang, pasti yang ditanya adalah ada apa, saya dapat apa, dan benefit yang didapat?. Sumatra menjadi pilihan karena sumber daya air di Pulau Jawa sudah menipis,” jelasnya. Ia menjelaskan, manfaat dari kawasan industri yakni, pengaturan dan penerapan rencana tata ruang wilayah lebih baik, pengendalian pencemaran lingkungan, pemusatan dan efisiensi penyediaan dan pengoperasian sarana/prasarana (infrastruktur) dan meningkatkan pertumbuhan industri dan ekonomi nasional. Sementara itu, Gubernur Sumatra Selatan Alex Noerdin mengaku, kawasan ekonomi khusus di Sumatra Selatan memang belum terlihat fisiknya, namun Pemprov Sumsel sudah berupaya maksimal untuk datangkan investor di Sumatra Selatan. Mulai dari PT Indorama, PT Dex, Oropesa Port, Dubai Port dan sebagainya. “Kita juga utamakan persetujuan dari pemerintah terkait rencana pembangunan di Sumatra Selatan. Seperti kilan minyak di KEK Tanjung Api-Api. Persetujuan sudah ada, tapi prosesnya panjang dan butuh waktu. Sekitar dua tahun lagi, sabar saja,” kata Alex.  Alex membeberkan, ada banyak kelemahan untuk tanamkan investasi di daerah, yakni sumber daya alam yang masih lemah, anggaran yang tidak begitu besar, dan sebagainya. Namun untuk layanan PTSP di Sumatra Selatan sudah sesuai standar bahkan mendapat nilai terbaik nomor dua di Indonesia, setelah Jawa Timur. Ia mengakui, investasi di Sumatra Selatan sedang dalam kondisi menggeliat karena akan adanya even olahraga besar, Asian Games pada 2018 mendatang. Sehingga semakin banyak infrastruktur pembangunan di Sumatra Selatan, dan investor pun mulai melirik daerah tersebut. “Dana pembangunan pun banyak dikucurkan pemerintah pusat dan pihak ketiga. Orientasi industri skala besar di Sumatra Selatan adalah orientasi ekspor, karena kekayaan sumber daya alam,” tandasnya. (Editor Elan)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here