Home HL Mobil Dinas Kapolda Distop Bhabinkamtibmas

Mobil Dinas Kapolda Distop Bhabinkamtibmas

120
0

 

LOMBOK, Jodanews- Brigadir I Ketut Surya Ningrat dan Brigadir Indra Jaya Kusuma, adalah anggota Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) di Polsek Praya Barat Daya, Lombok Tengah. Keduanya dipanggil Kapolda NTB Brigjen Pol. Drs. Umar Septono. Di apel Senin (27/6) pagi tadi, keduanya diminta bediri persis di belakang Kapolda, disaksikan ratusan personel dari prajurit, perwira sampai pejabat utama Polda NTB. Diceritakan, Ketut dan Indra Hari Rabu (22/6) lalu menyetop mobil dinas Kapolda di jalur bypass Bandara Internasional Lombok (Lombok International Airport). “Waktu itu, ada orang mau menyebrang. Satu orang nenek bawa kelapa. Kebetulan ada mobil pak Kapolda dari arah barat, ya saya stop,” tutur Ketut dihubungi via ponselnya.“Coba jelaskan sekarang, kenapa kamu berani hentikan mobil saya. Padahal saya pakai mobil dinas, pakaian dinas,” tanya Kapolda, kemudian menyerahkan microphone ke Ketut Surya Ningrat. Dia pun menjawab tenang, tapi tegas. “Karena saya bekerja untuk masyarakat. Saya diberikan tugas untuk melindungi dan mengayomi masyarakat, bukan melayani pimpinan,” kata Ketut, riuh tepuk tangan menyambut dari peserta apel. Kapolda meraih microphone tadi, kemudian berucap. “Saya pun merinding,” kata Kapolda, sembari mengangkat tangan kirinya yang masih memegang tongkat komando. Kapolda “angkat topi”, mengungkapkan kekagaumannya kepada dua personel di dekatnya itu. Seorang brigadir tanpa ragu menjawab dengan lugas apa yang seharusnya dia lakukan, karena memahami esensi dari tugasnya sebagai anggota Polri pelayan penuh masyarakat. “Kenapa dia tidak takut, sebab dia mempertanggungjawabkan tugasnya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dia tau, nasibnya tergantung kepada Tuhan, bukan kepada Kapolda,” ujar Kapolda lantang. Hal itu secara sadar dilakukannya, dengan alasan sederhana tapi kuat kandungan maknanya, demi implementasi tugas Bhabinkamtibmas. “Saya pengen dekatkan diri kepada masyarakat saya,” akunya. Tidak untuk pujian, bukan untuk “menantang” pimpinan atau gagah gagahan. Dia punya gambaran lebih jauh tentang polisi di masa mendatang. “Agar polisi kedepan menjadi lebih baik dan dicintai masyarakat,” harap Ketut. Sebenarnya ada keinginan Kapolda untuk turun dan menyalami dua anggota tersebut. “Tapi karena jalan ramai, khawatir macet, saya cuma minta nama anggota tadi dicatat dan saya panggil pagi ini,” ungkapnya, masih di kegiatan apel. Kapolda NTB membayangkan, jika ada jendral Polri yang dalam keadaan terburu buru mobilnya dihentikan seorang prajurit, hanya karena akan menyebrangkan seorang warga biasa. Sebab dalam kebiasaan, iring-iringan pejabat lah yang didahulukan, setelah berlalu, baru kemudian masyarakat dilayani. “Mindset ini harus dirubah. Ketika saya harus dicegat, ya saya berhenti, mobil berhenti. Artinya apa, Kapolda saja berani mereka cegat, apalagi Bupati, Kapolres, demi pelayanan tadi,” seru Kapolda. “Anda harus lebih takut kepada rakyat daripada orang berdasi. Ketika kendaraannya harus dihentikan ya stop saja, sampaikan bahwa saya (Anggota, red) melayani rakyat, bukan melayani pejabat atau orang berdasi,” ujarnya. Disarankan jendral bintang satu asal Probolinggo ini, sikap semacam ini tidak boleh dilakukan atas dasar tendensi pencitrraan atau keinginan untuk dipuji atasan. Tidak harus capek bersandiwara ketika memberikan pelayanan terbaik kepada atasan, tapi pelayanan yang biasa kepada rakyat. “Sebab satu hal yang harus kita ingat, bahwa ketika kita melakukan kebaikan apapun, Tuhan melihat kita dan mencatat itu. Tanamkan ini sebaik-baiknya,”demikian ajak Kapolda. (Arif Yuswandono/bh/knt)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here