Laporan Aptrama Dedy
Jodanews, Baturaja,- Dari 6 kelompok tani didesa Wayhelling kecamatan Lengkiti ada 5 kelompak yang aktif, tidak aktif satu kelompok karena permasalahan internal kelompok diantaranya anggota kelompok banyak yang sudah pindah dan tidak menetap lagi didesa Wayhelling.
Kades Wayhelling Suwardi saat di sambangi di rumahnya mengatakan “Awal nya 6 kelompok tapi 3 tahun lalu ada satu kelompok tani kami pakum, penyebabnya karena pengurus kelompok tidak aktif dan juga sebagian anggota kelompok sudah pindah alamat dan tidak menetap lagi di desa kami ”
Sehingga beberapa kali dapat bantuan dari pemerintah daerah melalui dinas pertanian Oku hanya 5 kelompok yang satunya terpaksa tidak bisa di ikut sertakan walaupun status kelompok tani tersebut masih terdaftar di data base menteri pertanian, dari ke-5 kelompok tani yaitu Tunas Harapan, Mekar Jaya, Karya Maju 1, Karya Maju 2 dan Harapan Maju. Sedangkan yang pakum adalah Karya Maju 3. Namun sekarang sudah kami upayakan keaktifannya, pengurusnya sudah di ganti dan anggota kelompok sudah kami lengkapi juga sudah dilaporkan dan di urus sampai ke dinas pertanian OKU, untuk itu kami berharap ditahun tahun kedepan kelompok ini akan di ikut sertakan apabila ada bantuan bantuan dari pihak pemerintah, jelas wardi.
Desa Wayhelling sampai sekarang termasuk salah satu desa yang petaninya rata rata bercocok tanam jagung, untuk tahun 2017 yang lalu hasil pertanian dari jagung mencapai lebih kurang 1200 ton dengan 2x panen.
Menurut Kepala desa Suwandi dari 2x tanam di bulan Maret dan bulan Agustus sayangnya petani hanya 1x saja mendapat bantuan dari dinas pertanian dan itu cuma berbentuk bantuan bibit jagung setiap orang dari anggota kelompok tani mandapat 15 Kg bibit berjenis Bisi 18, padahal kalau di lihat dari jumlah petani lebih banyak yang belum mendapat bantuan sehingga mereka terpaksa harus bermodal sendiri.
lanjutnya jika semua petani di desa ini di tambah kelompok tani maka kelompok taninya bisa mencapai 9 kelompok. Namun kendalanya sebagian mereka memang tidak mau jelasnya mereka tidak mau kecewa karena bantuan dari pemerintah sering tidak tepat waktu disaat musim tanam tiba, sehingga bantuan tersebut seakan sia sia ” saat mereka sudah menanam, bantuan baru datang bahkan pernah bantuan bibit pemerintah dari dinas pertanian datang mereka sudah panen”.
Kini pertanian tanaman jagung benar benar menjadi satu satunya hasil pertanian yang diandalkan oleh masyarakat wayhelling, 80 % warga Wayhelling bertani jagung bukan dilahan milik merela sendiri, namun numpang sewa di lahan milik Omiba sehingga hasil pertanian mereka yang rata rata perhektar menghasilkan 5 – 6 ton sekali panen harus berbagi dengan dengan pemilik lahan sewa pertahunnya Rp. 1 jt, belum lagi pemotongan harga oleh tengkulak karena pemasaran bukan dikelola oleh pihak pemerintah juga pembelian obat rumput dan pupuk yang harus digunakan untuk menunkang hasil.
Jadi kalau tidak ada bantuan dari bibit tentunya kondisi petani akan lebih tercekik.
Karena itu Suwardi selaku Kades yang baru menjabat setelah dilantik tahun 2017 lalu sangat berharap agar bantuan pemerintah dapat di tingkatkan kalau bisa selain bibit juga tolong disalurkan bantuan racun rumput dan pupuk tanaman, yang mana harga pupuk sekarang ini sulit di jangkau tidak sesuai dengan harga yang katanya pupuk bersubsidi, tutup Suwandi.(editor Jon Heri)








