Lapora Meida Sari
PALEMBANG, Jodanews – Lantaran kesal selalu dijanjikan rumah yang telah di berikan uang muka akan segera dibangun, namun ternyata hingga saat ini belum juga dibangun, membuat belasan calon penghuni Perumahan Izzatunissah yang berada di Silaberanti Plaju Palembang mendatangi SPKT Polda Sumsel, guna membuat laporan penipuan yang mereka alami.
Berawal dari pameran di malL, PT Citra Langgeng Cemerlang yang berkantor di Komplek Basilica Kalidoni Palembang menawarkan rumah lebih dari 100 unit kepada masyarakat. Dari situ, setelah berminat untuk mengambil rumah disana harus memberikan booking fee sebesar Rp 1 juta per unitnya.
“Aku sudah booking fee dan memberikan DP Rp 6 juta per unit, aku dana kakak mengambil masing-masing satu unit. Jadi kami telah menyetor Rp 12 juta untuk dua unit rumah,” ujar Ferri saat ditemui di Polda Sumsel. Jum’at (10/2/2017), sekitar pukul 19.00 Wib.
Karena menggunakan sistem KPR, sehingga harus terlebih dahulu melakukan akad kredit dengan pihak bank. Dari situ, berkas dan uang DP telah diserahkan kepada develover PT Citra Langgeng Cemerlang. Setelah uang diserahkan, dijanji pihak developer tersebut akan dibangun rumah tipe 36 MBR awal Juni.
Namun, setelah di cek rumah tersebut tidak jadi dibangun. Pihak pengembang beralasan masih ada persiapan dan pembangunan dimajukan ke bulan Agustus. Kenyataannya, rumah yang dijanjikan juga belum dibangun dan pihak developer menjanjikan November.
“Kami dijanjikan November, tetapi alasannya banjir. Jadi, dijanjikan kembali baru bisa dibangun bulan Januari. Ternyata, sampai sekarang belum juga dibangun, ketika kami datangi lokasinya lahan untuk pembangunan rumah itu masih semak belukar. Kami selalu dijanjikan akan dibangun, tetapi tidak ada buktinya,” ungkapnya.
Tidak adanya kepastian untuk rumah yang telah mereka pesan dibangun pihak developer, membuat calon pemilik rumah berupaya untuk menanyakan kepastian tersebut. Mendatangi kantor developer dan sempat menemui Supervisor bernama Tri dan Manager Pemasaran Pian, tetapi selalu mendapatkan jawaban akan dibangun.
Akhirnya, Ferri berinisiatif untuk mengajukan pembatalan pembelian rumah tersebut pada 19 Januari 2017 lalu. Baik Supervisor maupun Manager Pemasaran memberikan janji sebulan pembatalan tersebut uangnya akan dicairkan. Namun, sampai dengan sekarang janji yang diberikan tidak jelas.
“Supervisornya bilang besok dan minggu depan, alasannya bendahara belum datang. Sedangkan Managernya menjawab nanti diusahakan. Hasilnya, tetap tidak ada tindak lanjut dari jawaban tersebut sampai sekarang,” jelasnya.
Upaya untuk menemui dan meminta kembali uang yang telah mereka setorkan tidak kunjung diterima dan tidak ada etikat baik untuk menemui. Mereka akhirnya berinisiatif untuk menempuh jalur hukum.
Terlebih, dari informasi yang mereka cari-cari ternyata owner perumahan tersebut terlilit banyak hutang. Owner, direktur, supervisor maupun manager pemasaran saat ini juga tidak diketahui keberadaannya. Dihubungi melalui telepon juga nomornya tidak aktif lagi dan saat ini mereka menjadi kebingungan terlebih tidak ada kepastian untuk uang yang telah mereka setor.
Para calon pembeli rumah ini juga mendapat informasi bila perumahan yang akan mereka beli ini hendak dilemparkan ke developer lain. Akan tetapi, develepor yang dituju sempat membenarkan akan mengambil alih perumahan tersebut. Namun, lantaran tidak sanggup karena sudah banyak masalah sehingga developer yang akan mengambil alih perumahan tersebut membatalkan diri dan tidak pernah mengambil alih perumahan tersebut.
“Yang baru ketahuan ada 12 orang, tetapi kami yakin banyak calon lain yang merasa tertipu dengan developer ini. Karena, jumlah rumah tersebut dijanjikan akan dibangun lebih dari 100 unit,” pungkasnya.
Tak jauh berbeda juga diungkapkan Apri. Ia telah menyetorkan uang Rp 30 juta. Harga rumah yang ditawarkan Rp Rp 116.500.000 dan ia mengambil dengan sistem cash bertahap. Sehingga, nantinya pelunasan akan dibayarkan berdasarkan perjanjian dengan pihak developer.
“Bukan saya saja yang mengambil sistem cash bertahap, tetapi kakak saya juga mengambil sistem yang sama. Uang yang disetorkan lebih besar dari saya. Ada yang sudah setor antara Rp 35 juta hingga Rp 70 juta,” ujarnya.
Menurutnya, Direktur perumahan Lambrecmawati dan Owner perumahan Agus Widodo alias Cie Ciang diduga telah bangkrut. Sehingga, saat ini tidak hanya keduanya saja yang telah menghilang tetapi juga supervisor dan juga manager pemasaran juga telah menghilang tidak diketahui keberadaanya.
Karena, berdasarkan informasi yang telah diperleh bila tanah tempat dibangunnya perumahan yang akan mereka beli tersebut telah digadaikan ke bank. Sehingga, tanah tersebut direncanakan akan disita bank lantaran tidak dapat dibayar.
“Mereka semua ini ternyata banyak hutang, sehingga tidak jelas keberadaannya sekarang ini. Kami sudah berupaya untuk mencari rumah owner, supervisor maupun manager pemasaran, tetapi tidak jelas semuanya.
Sekarang kami tidak tahu lagi mau kemana kami mengadu kalau tidak ke polisi,” pungkasnya. (Editor Jon Heri)








