Purworejo — Memanfaatkan waktu istirahat, salah satu anggota satgas TMMD Reg 109 Kodim 0708/Purworejo, Sertu Parlan melakukan anjangsana sambil belajar membuat besek ke Mbah Satijo 60), warga di lokasi TMMD di Dusun Wonosari, Desa Sedayu, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, Minggu (27/09/2020).
Mbah Satijo meski sudah berusia 60 tahun tetap telaten dan tekun membuat besek anyaman bambu. Memang di Dusun Wonosari,Desa Sedayu terdapat beberapa rumah usaha UMKM pembuat besek. Kerajinan besek buatan warga Dusun Wonosari, Desa Sedayu dijual di pengepul yang berada di pasar Banyuasin yang merupakan pusat Kecamatan Loano.
Menurut Mbah Satijo, dia tak bisa menentukan berapa besek dihasilkan dalam sehari karena ini kerja sampingan. Tapi rata-rata, Mbah Satijo mampu membuat 20an besek dalam sehari.
” Banyak buat besek jika pesanan sedang banyak. Ora nyukupi tapi nguripi, ” kata Satijo, yang memiliki makna bahwa produksi besek tersebut tidak bisa mencukupi namun bisa menghidupi.
Keterampilan dalam membuat besek tersebut, Satijo mendapatkan ilmu turun temurun dari kakek neneknya. Kemudian Mbah Satijo pun menularkan ilmunya ke anaknya dan juga kepada anggota satgas TMMD yang sedang berkunjung ke rumahnya saat ini.
Harga besek bambu buatan Mbah Satijo masih sangat murah. Ukuran besar hanya Rp 1.500/pasang. Sedangkan ukuran sedang cuma Rp 1.200/pasang dan ukuran kecil Rp 1.000/pasang. Apalagi di saat masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, permintaan pasar sedikit sehingga harga juga di bawah harga biasanya.
Sertu Parlan, salah satu anggota satgas TMMD setelah mendapat penjelasan dan belajar sebentar tentang cara membuat besek sangat mengapresiasi Mbah Satijo.
” Gimana tidak, proses pembuatan besek harus melalui proses panjang. Bahan bambu yang sudah tua dipotong dan dibelah kemudian diirat dibuat tipis-tipis. Iratan bambu itu dijemur hingga kering. Supaya pembuatan anyaman bambu untuk besek lebih mudah. Hal itu besek lebih awet, ” ucap Sertu Parlan.
Mbah Satijo juga sangat selektif, lanjutnya, yakni hanya membuat besek menggunakan iratan bambu kering supaya hasil bagus dan awet.
” Selama ini untuk bahan baku dan barang tidak pernah menjadi hambatan namun yang menjadi hambatan adalah cuaca. Jika musim hujan maka proses pengeringan bambu lebih lama, ” tutupnya.
(Pendim 0708/Purworejo)






