Laporan HSB
PALEMBANG, Jodanews.com -Sekolah Dasar (SD) tidak boleh melakukan pengetesan baca, tulis, dan hitung (calistung) pada penerimaaan siswa baru tahun ajaran 2019-2020. Hal ini ditegaskan Dinas Pendidikan Kota Palembang.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Palembang H. Ahamad Zulinto, S.Pd.MM menuturkan, proses penerimaan siswa baru tingkat SD tidak boleh memasukkan tes calistung sebagai standar penerimaannya.
Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) harus menggunakan skema zonasi sebagai persyaratan masuk SD. Hal ini tertuang dalam Permendikbud Nomor 51 Tahun 2018 tentang PPDB, bahwa selain jarak rumah, persyaratan usia merupakan satu-satunya syarat calon peserta didik kelas 1 SD, yaitu berusia tujuh tahun atau paling rendah enam tahun pada tanggal 1 Juli tahun berjalan. Melalui system zonasi, maka bisa diketahui jumlah anak yang masuk ditiap jenjang satuan pendidikan di suatu kecamatan,terangnya.
Ia menuturkan, siswa yang sebelumnya sudah mengenyam pendidikan di taman kanak-kanak (TK) atau pendidikan anak usia dini (PAUD) mungkin tidak akan kesulitan. Selain bermain, lembaga TK dan PAUD juga mengajarkan anak-anak untuk mengenal huruf dan angka.
Namun, kata dia, siswa yang tidak mengenyam pendidikan di TK atau PAUD tentu akan kesulitan untuk masuk SD jika standar penerimaannya didasarkan pada tes calistung. Selain itu, lembaga SD memang tidak boleh melakukan tes dalam proses penerimaan siswa barunya.
Maka dari itu lanjut Zulinto, kalau ada SD mewajibkan tes calistung itu salah kecuali tesnya umur. Sebab, umur tentukan tingkat kematangan psikologi anak.Tidak ada tes untuk masuk SD, kalau usia sudah cukup, guru diwajibkan untuk menerima siswa tersebut. Kalau ada sekolah yang menerapkan tes PPDB, akan kami tindak tegas, karena hal tersebut tidak diperbolehkan,tegasnya.
Penerimaan siswa baru hanya diseleksi berdasarkan kategori umur. Umur bagi calon murid SD adalah berusia 7 tahun atau paling rendah 6 tahun, terhitung pada tanggal 1 Juli pada tahun berjalan,ujarnya.
Menurut Zulinto, SD fokusnya pada pendidikan karakter. Pembiasaan nanti akan jadi karakter dan berlanjut pada budaya. Mengapa pendidikan karakter yang diutamakan karena nanti mereka terbiasa budaya antri, disiplin, kerja ekstra, jujur, dan kemandirian, tegasnya. (Editor Jon Heri)








