Laporan Hasan Basri
PALEMBANG, Jodanews.com – Masih banyaknya masyarakat yang masih memikirkan seni itu tidak bisa menjanjikan banyak uang, membuat sekolah kejuruan jurusan Seni dan industri kreatif minim peminatnya.
Seperti yang diungkap Kepala SMK Negeri 7 Palembang H. Suparman, S.Pd. M.Si, SMKN 7 Palembang merupakan satu-satu sekolah kejuruan di Sumsel yang memiliki jurusan seni dan industri kreatif, namun peminat jurusan seni apalagi seni murni, seperti seni lukis dan kriya masih sangat sedikit sekali di Palembang. “Terbukti dengan jumlah murid di SMKN 7 Palembang yang mengambil jurusan seni murni dan kriya sedikit, untuk kelas XII saja ada 12 anak jurusan seni lukis dan 12 anak untuk jurusan kriya,” katanya, Sabtu (16/3/2019)
“Laris manis di dunia pekerjaan namun tak banyak yang minat, padahal jurusan seni lukis dan kriya ini sangat dibutuhkan di dunia pekerjaan dan sangat menjanjikan. “Seni dan industri kreatif ini kan di bidang pekerjaan sangat menjanjikan terutama kriya kayu,” katanya.
Dikatakannya, Kriya kayu itu kan sangat dibutuhkan untuk mendesain interior, mengukir jati terutama mengisi sektor funiture dan lainnya. Jurusan ini justru kadang anemo pekerjaannya banyak tapi peminat untuk masuk di jurusan ini sangat kurang makanya saya sebut jurusan yang laris manis di dunia kerja tapi justru tidak laku karena kurang peminatnya,” katanya.
Walaupun begitu, pria lulusan ITB ini tak menyerah untuk terus membuka jurusan seni dan industri ini. Pihaknya tetap melakukan sosialisasi dan sempat mengadakan gebyar seni mengundang murid-murid SMP yang memang berminat dengan seni, kalau di SMKN 7 ini punya jurusan seni dan industri dulu ada di Kayuagung sekarang cuma ada di SMKN 7.
Dia menyebutkan, SMKN 7 Palembang memiliki 8 jurusan, yakni dibagi 2 kelompok, kelompok pertama, seni dan industri kreatif dengan program studi; kriya logam, kriya kayu, seni rupa, desain komunikasi visual, dan tekstil Kelompok kedua ada, teknologi dan rekayasa dengan program studi; teknik permesinan, teknik kendarana ringan, dan teknik bisnis sepeda motor
“Jangan sampai SMK ini menyumbang pengangguran, kita juga harus lihat antara suplai dan demand, kebutuhan dengan memproduksinya. Takutnya terlalu banyak tamatan SMK yang dunia kerjanya sempit sementara setelah tamat jadi pengangguran,” pungkasnya. (Editor Jon Heri)








