Laporan Hasan Basri
PALEMBANG, Jodanews.com – Siapa sangka siswa Madrasah Ibtidaiyah tidak bisa menjadi reporter, buktinya 10 s siswa MI Negeri se Sumatera Selatan yang di damping guru pembimbing lomba reporter cilik yang digelar oleh Subbag Inmas Kanwil Kementerian Agama Prov. Sumatera Selatan di aula Kanwil Kemenag Sumsel. Kabag TU Abadil membuka secara resmi pekan Inmas.
Kasubbag Inmas Saefudin mengatakan, para peserta reporter cilik ini adalah mereka yang telah terpilih dan menjadi utusan MIN Kabupaten Kota. Reporter cilik merupakan pertama kali digelar oleh Kanwil Kemenag Sumsel dalam ajang pekan Inmas 2019 untuk menjaring siswa-siswi yang teramil dibidang reportase
“siswa MIN ini siswa-sisiwi Madrasah ini adalah agen of change di masa datang. Melalui inilah generasi penenerus bangsa dibekali ilmu jurnalistik, agar mampu memberikan informasi yang tepat, benar, akurat dan tidak menebar berita Hoax.
“Melalui lomba ini, setidaknya kita memberikan pendidikan kepada anak sejak dini mengenai reporter, agar supaya mereka kelak mendapat pengetahuan dilatih bagaimana menjadi penyebar informasi yang tepat, baik, akurat dan dapat dipercaya , mereka belajar untuk tidak menebar berita Hoax,”ujarnya.
Saefudin menerangkan, Selain menggelar pemilihan duta Inmas dan reporter cilik dalam pecan Inmas 2019 pihaknya juga menggelar beberapa rangkaian acara Jurnalistik MTsN dan MAN, lomba TSI tingkat Kankemenag dan madrasah, lomba PPID tingkat Kakenmenag.”Renacanya apresiasi akan diberikan pada acara malam penganugrahan pecan Inmas pada bulan Maret mendatang,”tutupnya
Sementara itu, Salah satu reporter Cilik Aura Kenia saat ditanyai mengenai pengalamannya ia mngungkapkan ia mengikuti lomba untuk berlatih wawancara dan melaporkan berita. Dalam lomba ini ia memilih tema Madrasah untuk menggambarkan tentang Madrasah,”ujarnya.
“Bagi saya menang kalah hal yang biasa yang penting saya sudah memberikan yang terbaik, karena ini merupakan pengalaman pertama saya berusaha memberikan yang terbaik buat Madrasah. Mudah-mudahan saja menjadi juara,”pungkasnya (hasan basri)
.
.
.








