Home HL MENJADI GURU MASA DEPAN YANG INSPIRATIF

MENJADI GURU MASA DEPAN YANG INSPIRATIF

197
0

OLEH: BAYUMIE SYUKRI AP SE MSi
(Praktisi dan Pemerhati Pendidikan, Tinggal di Palembang)

 Minggu, 25 November  adalah hari Guru Nasional tahun 2018. Hari di mana kita mengenang sejarah bahwa Republik ini dirintis dan didirikan oleh kaum terdidik. Mereka adalah generasi baru di zamannya yang merasakan pengajaran, pendidikan dan pencerahan. Mereka sangat sadar atas manfaat langsung pendidikan dan karena itulah mencerdaskan kehidupan bangsa, mereka tetapkan sebagai sebuah amanah yang harus ditunaikan. Sebuah pesan tegas bahwa kunci kemajuan bangsa ini ada pada kualitas manusianya.

Dalam situasi dan kondisi bangsa yang masih dilanda krisis multi dimensi yang berkepanjangan dan masih diselimuti ketidakpastian berbagai aspek kehidupan, eksistensi pendidikan merupakan penyejuk dan sekaligus pemberi harapan terhadap kecerahan masa depan bangsa. Melalui pendidikan inilah semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara diharapkan dapat berevolusi sesuai dengan peran dan fungsi masing – masing secara sinergi menuju tercapainya tujuan nasional. Oleh karena itu, keberadaan dan kehadiran pendidik, sebagai key actor in the lerning process, yang profesional serta memiliki karakter kuat dan cerdas merupakan suatu kebutuhan.

Dalam konteks pembangunan sektor pendidikan, pendidik (baca; guru) merupakan pemegang peran yang amat sentral.  Guru adalah jantungnya pendidikan. Tanpa denyut dan peran aktif guru, kebijakan pembaruan pendidikan secanggih apa pun tetap akan sia-sia. Sebagus apa pun dan semodern apa pun sebuah kurikulum dan perencanaan strategis pendidikan dirancang, jika tanpa guru yang berkualitas, tidak akan membuahkan hasil optimal. Artinya, pendidikan yang baik dan unggul tetap akan tergantung pada kondisi mutu guru, karena guru adalah kurikulum berjalan.

Pendidik (Guru) merupakan komponen vital dan fundamental dalam proses pendidikan, yang mengedepankan proses pematangan kejiwaan, pola pikir dan pembentukan serta pengembangan karakter (character building) bangsa untuk mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya. Keberadaan dan peran pendidik dalam proses pembelajaran tidak dapat digantikan oleh siapapun dan apapun. Pendidik yang handal, profesional dan berdaya saing tinggi, serta memiliki karakter yang kuat dan cerdas merupakan modal dasar  dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas yang mampu mencetak sumberdaya manusia yang berkarakter, cerdas dan bermoral tinggi. Sumberdaya manusia yang demikianlah yang sebenarnya diperlukan oleh bangsa Indonesia untuk dapat bersaing dengan negara – negara lain dan dapat berperan serta aktif dalam perkembangan dunia di era global dan bebas hampir tanpa batas ini.

Guru adalah jabatan profesi, untuk itu seorang guru harus mampu melaksanakan tugasnya secara profesional. Seseorang dianggap profesional apabila mampu mengerjakan tugasnya dengan selalu berpegang teguh pada etika kerja, independent (bebas dari tekanan pihak luar), cepat (produktif), tepat (efektif), efisien dan inovatif serta didasarkan pada prinsip-prinsip pelayanan prima yang didasarkan pada unsur-unsur ilmu atau teori yang sistematis, kewenangan profesional, pengakuan masyarakat dan kode etik yang regulatif.  Pengembangan wawasan dapat dilakukan melalui forum pertemuan profesi, Kelompok Kerja Guru (KKG), Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), pelatihan ataupun upaya pengembangan dan belajar secara mandiri.

Sejalan dengan hal di atas, seorang guru harus terus meningkatkan profesionalismenya melalui berbagai kegiatan yang dapat mengembangkan kemampuannya dalam mengelola pembelajaran maupun kemampuan lain dalam upaya menjadikan peserta didik memiliki keterampilan belajar, mencakup keterampilan dalam memperoleh pengetahuan (learning to know), keterampilan dalam pengembangan jati diri (learning to be), keterampilan dalam pelaksanaan tugas-tugas tertentu (learning to do), dan keterampilan untuk dapat hidup berdampingan dengan sesama secara harmonis (learning to live together).

 

Guru Masa Depan

Guru yang diharapkan sekarang dan masa depan adalah guru yang melandasi interaksinya dengan siswa diatas nilai-nilai cinta dan kasih sayang. Dengan cintalah akan lahir keharmonisan. Di era globalisasi yang selalu mengedepankan emosi di sisi hati, ditengah mewabahnya kekeringan sosial dan krisis kesantunan moral, maka sebuah keniscayaan bagi guru untuk merevitalisasi penanaman sikap santun dan keramahan di sekolah sebagai lembaga rekayasa sosial, bahwa di era reformasi yang serba kebablasan ini guru harus mengajar muridnya dengan hati (cinta dan kasih sayang) bukan emosi. Bahwa setiap anak itu di lahirkan sebagai bintang. Kemampuan anak itu seluas Samudera, Setiap anak itu adalah Harta karun,  Memahami adalah Menyelami kemampuan anak,  dan setiap anak memiliki bakat dan kemampuan sendiri-sendiri.

Sosok guru yang selalu menebar kasih sayang pada siswa akan melahirkan sebuah kharisma. Siswa akan mencintai guru dengan cara mengidolakannya, serta menempatkan dia sebagai sosok yang berwibawa dan disegani.  “Betapa bahagianya menjadi seorang guru yang tampil penuh kharisma dihadapan siswanya. Sosok guru yang selalu dirindukan kedatangannya, diamnya disegani, tutur katanya ditaati,  dan kepergiannya ditangisi.”  Guru tidak dibatasi waktu dan tempat dalam mendidik siswa, sebagaimana orang tua mendidik anaknya. Guru harus ikhlas dalam memberikan bimbingan kepada para siswanya sepanjang waktu. Demikian pula tempat pendidikannya tidak terbatas hanya di dalam ruang kelas saja, dimanapun seorang guru berada, dia harus sanggup memainkan perannya sebagai seorang pendidik yang sejati. Fenomena ini yang perlu kita kembangkan bersama dalam satuan pendidikan. Karena pendidikan adalah sebuah dunia yang lahir dari rahim kasih sayang. Pendidikan harus berlangsung dalam suasana kekeluargaan dengan pendidik sebagai orang tua dan anak didik (siswa) sebagai anak.  Menjadi guru bukanlah sekedar pekerjaan semata, melainkan menjadi pelukis masa depan.

 

Guru Inspiratif

Guru inspiratif akan selalu memberikan perspektif pencerahan kepada para siswanya. Mereka tidak sekedar mengajar sebagai kewajiban sebagaimana ditentukan dalam kurikulum, tetapi juga senantiasa berusaha secara maksimal untuk mengembangkan potensi, wawasan, cara pandang, dan orientasi hidup siswa-siswanya. Sebab, kesuksesan mengajar tidak hanya diukur secara kuantitatif dari angka-angka yang diperoleh dalam evaluasi, tetapi bagaimana memanusiakan manusia dan bagaimana para siswanya menjalani kehidupan selanjutnya setelah mereka menyelesaikan masa-masa studinya.

Kriteria guru yang inspiratif memang belum terumuskan secara jelas. Ini merupakan hal yang wajar karena definisi guru inspiratif sendiri bukan sebuah definisi yang populer dan baku dalam dunia pendidikan kita. Namun demikian, bukan berarti tidak ada kriteria. Berdasarkan penelusuran literatur, diskusi, dan perenungan, ada beberapa kriteria untuk mengukur apakah seorang guru dapat dikategorikan sebagai guru inspiratif atau bukan. Tentu saja, apa yang penulis kategorikan sebagai kriteria inspiratif ini bukanlah sebuah kriteria baku. Sangat mungkin pembaca menemukan kriteria-kriteria lainnya yang dapat melengkapi kriteria yang penulis rumuskan.

Pertama, terus belajar. Belajar menambah pengetahuan secara terus menerus merupakan hal yang harus dilakukan oleh seorang guru inspiratif. Perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat menjadi tantangan bagi guru untuk terus mengikutinya. Akses menambah ilmu sekarang ini semakin terbuka. Sumber pengetahuan tidak hanya dari buku. Sekarang ini, ada beraneka sumber belajar yang bisa didapatkan.

Kedua, kompeten. Bagi seorang guru, memiliki kompetensi berarti memiliki kecakapan atau kemampuan untuk mengajar. Tentu saja, kompetensi ini tidak sekedar mampu dalam makna yang minimal, tetapi mampu dalam makna yang mendalam.

Ketiga, ikhlas. Guru yang mengajar bukan karena dilandasi oleh keikhlasan, tetapi karena semata-mata mencari nafkah, maka pekerjaannya sebagai guru akan dinilainya hanya dari segi capaian materi semata. Apabila yang menjadi orientasi utamanya adalah materi, maka si guru akan mengalami kegoncangan psikologis apabila ia merasa tidak seimbang antara apa yang ia kerjakan dengan honorarium yang ia terima. Sebagai akibatnya, ia akan kehilangan semangat mengajar. Mengajar dilakukan hanya sekedarnya sebagai bagian untuk memenuhi syarat mendapatkan gaji.

Keempat, spiritualis. Aspek spiritualitas menjadi aspek penting yang mempengaruhi sisi inspiratif atau tidaknya seorang guru. Memang sisi ini bukan sebuah keharusan, tetapi adanya sisi spiritualis ini akan semakin mengukuhkan dimensi inspiratif seorang guru. Bagi seorang guru, khususnya guru agama, aspek spiritualitas merupakan aspek yang harus dimiliki yang membedakannya dengan guru bidang studi lainnya. Guru agama bukan sekedar sebagai “penyampai” materi pelajaran, tetapi lebih dari itu, ia adalah sumber inspirasi “spiritual” dan sekaligus sebagai pembimbing sehingga terjalin hubungan pribadi antara guru dengan anak didik yang cukup dekat dan mampu melahirkan keterpaduan bimbingan rohani dan akhlak dengan materi pengajarannya.

Kelima, totalitas. Totalitas merupakan bentuk penghayatan dan implementasi profesi yang dilaksanakan secara utuh. Dengan totalitas, maka seorang guru akan memiliki curahan energi secara maksimal untuk mendidik para siswanya. Dalam kaitannya dengan totalitas ini, menarik untuk merenungkan pernyataan Win Wenger (2003), “Apapun bidang yang sedang Anda pelajari, tenggelamkan diri Anda ke dalamnya. Bangunlah hubungan saraf-inderawi (neuro-sensori) dengannya sebanyak mungkin indera dan imajinasi Anda”.

Keenam, motivator dan kreatif. Motivasi dalam diri siswa akan terbangun manakala siswa memiliki ketertarikan terhadap apa yang disampaikan oleh guru. Hubungan emosional ini penting untuk membangkitkan motivasi siswa. Motivasi akan sulit dibangun manakala dalam diri siswa tidak terdapat ketertarikan sama sekali terhadap guru.

Ketujuh, pendorong perubahan. Guru inspiratif akan meninggalkan pengaruh kuat dalam diri para siswanya. Mereka akan terus dikenang, menimbulkan spirit dan energi perubahan yang besar, dan menjadikan kehidupan para siswanya senantiasa bergerak menuju ke arah yang lebih baik. Guru semacam inilah yang banyak melahirkan para tokoh besar. Mereka sendiri mungkin sampai sekarang tetap berada di tempatnya tinggal, tetap dengan kesederhanaannya, dan tetap menularkan virus inspiratif kepada para siswanya yang terus datang silih berganti, sementara para siswanya yang terinjeksi spirit hidupnya telah berubah dan menjadi seorang yang memiliki capaian besar dalam hidupnya.

Kedelapan, disiplin. Dalam konteks disiplin, keteladanan guru menegakkan disiplin akan menjadi rujukan bagi para siswa untuk juga membangun kedisiplinan. Bagaimana mungkin para siswa akan dapat menjalankan disiplin dengan baik, jika guru sendiri tidak memberikan keteladanan? Aspek yang akan lebih meneguhkan tertanamnya budaya disiplin dalam diri anak didik dalam menegakkan wibawa dan keteladanan adalah konsistensi, atau dalam bahasa agama disebut dengan istiqamah.Sebuah aturan yang ditegakkan tanpa konsistensi akan menghancurkan kewibawaan. Lebih jauh, budaya disiplin pun akan sulit diharapkan untuk tumbuh subur. Dalam hal ini, guru dan pihak sekolah harus membangun sistem yang tidak memungkinkan terjadinya faktor-faktor yang memutus budaya disiplin.

Untuk menjadi guru yang inspiratif ini memang tidak mudah, karena dirinya harus membawa sesuatu yang tidak biasanya, mampu menembus batas tradisi, dan kreatif, ia selalu ingin perubahan, peka terhadap situasi dan konteks hidup siswanya. Menjadi guru inspiratif tentu saja tidak dapat diraih dengan hanya sekedar “berbeda”, ia membutuhkan komitment tinggi terhadap perubahan, memahami, serta mampu membawa siswanya memahami dunia melalui dirinya sendiri. Mendidik anak-anak kita bukan berarti mengajarkan kepada mereka sekumpulan ilmu pengetahuan semata. Lebih penting lagi, mendidik berarti mengajarkan kepada anak-anak kita sejak usia dini, kemampuan untuk siap dan mampu menghadapi tantangan dunia masa depan yang akan menjadi ajang hidup mereka nantinya. Dan ini berarti menanamkan keingintahuan dan rasa cinta belajar seumur hidup, kreativitas, keberanian mengemukakan pendapat dan berekspresi, serta penghargaan akan segala bentuk perbedaan (antar manusia). Indikasi bahwa seseorang bisa disebut guru (pendidik) yang hebat bukanlah pada kemampuannya mengajarkan murid untuk pintar menjawab semua jenis pertanyaan, tetapi pada kemampuannya menginspirasi murid agar mengajukan pertanyaan yang dia sendirinya kesulitan untuk menjawabnya. (Editor Jon Heri)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here