#Tersangka akan dikenakan Sanksi Berat Yakni Dikeluarkan dari Sekolah
Laporan Hasan Basri
PALEMBANG, Jodanews – Aksi penusukan yang dilakukan siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Palembang berinisial TW yang saat ini duduk di kelas VIII (8) terhadap siswa SMP Negeri 5 Palembang berinisial E bakal berbuntut panjang. Pasalnya, jika terbukti dilakukan dengan sengaja, oknum siswa TW akan diberikan sanksi berat berupa dikeluarkan dari sekolah secara tidak hormat.
Waka Kurikulum SMPN 2 Palembang, Dedi Saldian mengatakan, terkait kasus penusukan yang dilakukan oleh salah satu anaknya didiknya tersebut, pihak sekolah belum mengambil tindakan apapun. Menurutnya pihak sekolah akan melakukan mediasi pada sekolah dan siswa untuk menemukan kronologis sebenarnya.
“Informasi sementara yang kita dapatkan, selain siswa dari SMPN 2 dan SMPN 5, ada juga keterlibatan dari siswa SMPN 13 Palembang. Untuk itu kita akan melakukan mediasi bersama untuk mengetahui bersama kronologis yang sebenarnya,” katanya saat ditemui di sekolah, Kamis, (19/10/2017).
Dijelaskannya, dari hasil dan proses hukum tersebutlah akan dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi pihak sekolah untuk mengambil sikap dalam kasus ini. “Kalu memang terbukti bersalah dan sengaja dilakukan, tentu kita akan ambil sikap tegas yakni siswa akan dikeluarkan dari sekolah,” tegasnya.
Disisi lain, Dedi mengungkapkan, disekolah TW merupakan siswa yang biasa saja. Tak banyak ulah, namun memang beberapa kali pernah dipanggil oleh guru Bimbingan Konseling (BK) karena ribut di kelas. Untuk akademik, nilai Wahyu memang tak terlalu menonjol. Namun, Dedi enggan menyebutkan jika Wahyu merupakan anak yang bodoh. “Biasa-biasa sajalah, standar seperti umumnya. Dia ini kalau dipanggil BK yang pernah, tapi karena ribut di kelas. Bukan berkelahi ya, enggak ada ulah atau kasus anak ini,” terang Dedi, Kamis (19/10).
Mengenai kasus yang menimpa siswanya ini. Dedi belum dapat mengambil keputusan. Menurutnya, pihak sekolah masih akan melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk mengetahui kronologis peristiwa tersebut. “Kita belum mau ambil sikap, kita mau koordinasi dulu. Dia juga diamankan belum tentu salahkan. Tapi jika memang terbukti salah, maka kami akan keluarkan. Kalau sekarang mediasi dululah,” katanya.
Dedi mengaku kaget dengan kejadian ini. Pasalnya, dalam peringatan hari cuci tangan itu, hampir semua guru di SMP Negeri 2 ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. “Hampir semua guru ikut mengawal 300 siswa kami ya, tapi masih terjadi,” ungkapnya.
Agar tak kembali kecolongan dengan peristiwa serupa. Kedepan Dedi mengaku, akan memperketat lagi kegiatan-kegiatan yang diadakan di luar lingkungan sekolah, dan akan menyeleksi para siswa yang akan dikirim ke luar. “Kita perketat, kita batasi acara di luar sekolah, kita seleksi lagi siswa yang ikut,” tegasnya.
Setelah kejadian itu, pihak SMP Negeri 2 Palembang bersama wali murid akan mengunjungi E yang menjadi korban penusukan tersebut untuk melakukan silaturahmi. “Kalau kepala sekolah kemarin, saat tahu kejadian itu, langsung ke RS AK Gani jenguk siswa itu,” katanya.
Menanggapi kejadi ini, Kadisdik kota Palembang H Ahmad Zulinto mengatakan pihaknya sangat menyayangkan kondisi menimpa siswanya. “Setelah menerima laporan, saya langsung ke Rumah Sakit untuk melihat kondisi anak, alhamdulilah sekarang cukup baik dan secara tim medis sudah normal meski masih di ruangan ICU, mudah-mudahan siswa kita ini segara sehat,” katanya.
Zulinto sangat menyesalkan kejadian yang berbarengan dengan kegiatan cuci tangan sedunia, prihatin dengan siswa SMP Negeri 2 Palembang, sebab ini tidak perlu terjadi apalagi hari cuci tangan sedunia, mungkin siswa melakukan penikaman kurang sehat akal atau jiwanya. “Soalnya saya dengar, tidak ada masalah sedikit pun antara siswa SMPN 2 dan SMPN 5 Palembang, malahan kejadian ini berada disamping walikelas SMPN 5, dan salah satu anak tersebut tiba-tiba ditusuk dari belakang oleh siswa SMPN 2. Setelah penikaman, si Korban tidak tahu kalau Ia ditusuk dari belakang,” jelasnya.
Ia tidak menyangka hal ini terjadi ditengah ribuan pelajar siswa SMP, makanya kedepan guru, orang tua dan masyarakat agar melakukan pengawasan, seperti di sekolah siswa ini diperiksa apakah mereka membawa sajam dan lainnya. “Saya melihat siswa SMPN 2, kenapa tidak memakai seragam sekolah dan ada 2 orang yang bukan anak sekolah berada disampingnya, tentu dia ini salah pergaulan,” ungkapnya
Mengenai sanksi, sudah jelas siswa SMPN 2 Palembang yang melakukan penikaman saya minta diberhentikan. “Sanksi yang diberikan tidak ada ampunan, proses hukum harus tetap berjalan, kepala SMPN 2 dan seluruh Kepala SMP lainnya akan kami himbau dan para siswanya harus diberikan arahan seperti ilmu keagamaan,” tukasnya.
Senada yang dikatakan, Dewan Pendidikan Sumatera Selatan (Sumsel), Zulkifli Dahlan mengaku, sangat menyesalkan kejadian tersebut. Ia pun sangat heran, bagaimana seorang siswa dapat membawa senjata tajam namun tidak diketahui oleh gurunya. “Padahal kegiatan tersebut berada di luar lingkungan sekolah dan dalam pengawasan gurukan,” katanya.
Dengan kenyataan ini, Zulkifli menerangkan, pendidikan masalah sikap dan perilaku bagi para siswa, sangat perlu di implementasikan di pendidikan karakter dengan kegiatan-kegiatan yang mengarah kebiasaan baik. “Pengwasan guru sangat diperlukan untuk memantau perialaku peserta didiknya selama di sekolah dan kegiatan di luar sekolah. Selama masih dalam pengawasan guru atau sekolah,” pungkasnya. (Editor Jon Heri)









