Laporan Hasan Basri
PALEMBANG, Jodanews – Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Sumatera Selatan (Sumsel), Drs Widodo M Pd menjelaskan minimnya serapan kerja bagi lulusan SMK dilatarbelakangi pertumbuhan ekonomi yang lambat. Belum lagi, ilmu yang diajarkan selama duduk dibangku sekolah kerapkali tidak sesuai dengan kebutuhan industri yang tersedia.
Menurutnya, Kompetensi keahlian yang diajarkan selama di sekolah kejuruan (SMK) butuh penyesuian dengan dunia industri. Tercatat, lulusan SMK yang terserap di dunia industri hanya berkisar 27-35 persen.
“SMK ini didesain untuk siap kerja atau membuat lapangan pekerjaan. Oleh sebab itulah, sekolah harus memastikan proses pembelajaran matching dengan lapangan kerja. Dalam kondisi ekonomi yang lesu ini, serapan kerja alumni SMK hanya berkisar 27-35 persen,” kata dia dalam Job Fair and Job Matching SMK se Sumsel di Aula SMKN 2 Palembang, kemarin.
Lebih jauh dia menjelaskan, pemerintah sudah berupaya agar lulusan SMK bisa bersaing dengan calon tenaga kerja lainnya. Salah satunya dengan beberapa sekolah sudah menjadi Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) seperti SMK Sumsel, SMKN 2, SMKN 3 dan lainnya. Sertifikasi dari sekolah berkaitan dengan displin ilmu yang diajarkan selama belajar. “Tugas lembaga itu (LSP) agar alumni di sekolah bersangkutan bisa menjadi jaminan dari dunia industri dan usaha agar mudah mendapatkan pekerjaan,” ujarnya.
Selain itu, sambung Widodo, penyelenggaraan Job Fair dan Job Matching juga bisa menjadi momen proses pembelajaran sesuai dengan kebutuhan industri. Sehingga momen ini bisa dimanfaatkan sekolah sebagai bahan evaluasi untuk mengupgrade proses pembelajaran untuk anak didik. “Kita minta sekolah untuk memanfaatkan Job Fair dan Job Matching ini dengan baik,” katanya.
Sementara itu, Kepala SMKN 2 Palembang Drs. H. Zulkarnain, MT mengatakan, gelaran Job Fair and Job Matching sebagai upaya dalam memberikan kesempatan kepada alumni SMK mencari pekerjaan. Dalam kegiatan ini setidaknya diikuti 113 perusahaan dengan berbagai displin ilmu yang dibutuhkan. “Perusahaan yang berpartisipasi cukup beragam ada bidang jasa, manajemen, akuntansi dan lainnya. Artinya perusahaan tidak hanya membutuhkan teknologi semata. Kegiatan ini sendiri akan dilaksanakan selama 6 hari, 11-16 September 2017,” kata dia.
Di sekolah, tambah Zulkarnain, pihaknya juga mencoba mendesain pembelajaran agar kompetensi yang diterima sesuai dengan kebutuhan industri. Salah satunya dengan membentuk Lembaga Serifikasi Profesi Pihak Pertama (LSP-P1) bidang konstruksi dari Kemendikbud dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). “Dengan pembentukan ini sendiri diharapkan serapan alumni untuk bekerja di dunia industri dan usaha bisa lebih banyak karena sudah dibekali dengan sertifikat,” harapnya (Editor Jon Heri)









