Laporan Gilik Jhon
Kayuagung OKI,Jodanews– Delegasi pertemuan Menteri Lingkungan Asia Pasifik “The First Asia Bonn Challenge High Level Roudtable Meeting” menanam 100 pohon khas gambut di Kebun Plasma Nuftah dan Demontrasi Plot Restorasi Hutan Rawa Gambut di Desa Sepucuk, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, Selasa (9/5).
Penanam pohon khas gambut seperti ramin, jelutung, punak, perupuk, dan pulai rawa itu dilakukan puluhan peserta Bonn Challenge sebagai simbol kepedulian dunia pada perestorasian gambut. Dalam kegiatan field trip peserta Bonn Challenge yang juga diikuti Direktur Inventarisasi dan Pemantauan Hutan Ruanda Agung dan Gubernur Sumsel Alex Noerdin serta Bupati OKI H Iskandar SE ini juga disampaikan ke peserta mengenai sejarah berdirinya kawasan hutan restorasi gambut di Sepucuk ini.
“Kita mengajak para delegasi menanam 100 bibit pohon lokal di lokasi, dan ini merupakan momen monumental karena bibit-bibit yang ditanam akan diadopsi oleh masing-masing delegasi,” ujar Bupati OKI H Iskandar SE. Bupati mengungkapkan bahwa lokasi yang dikunjungi memiliki luas 20 hektar dan sebelumnya merupakan kawasan hutan produksi tetap (HPL) bekas kebakaran sejak tahun 2006, kemudian terjadi suksesi alami yang terbentuk terdiri dari pakis dan rumput rawa. Demplot restorasi lahan gambut, lanjut Iskandar, di kawasan Jalan Sepucuk merupakan hasil kerjasama Badan Litbang LHK Palembang dengan International Tropical Timber Organizer (ITTO) dan Dinas Kehutanan Provinsi Sumsel dan Kabupaten OKI. “Barulah pada tahun 2010, mulai dilak
ukan persiapan lahan dan menanam dua jenis pohon yakni ramin dan jelutung,” ujar Iskandar. “Selanjutnya pada tahun 2012, pepohonan mulai tumbuh ditambah penanaman jenis lainnya hingga saat ini. Kita akan menunjukan bahwa di areal gambut bekas terbakar bisa direstorasi bila dilakukan. Yakni dengan perlakuan silvikultur khusus,” lanjut Iskandar. Ditambahkannya, sebenarnya lahan gambut atau lahan HTI (Hutan Produksi) yang ada di wilayah Kabupaten OKI masih ada atau yang ditargetkan pada tahun 2020 sekitar 20 ribu hektar. Target pertama baru 10 ribu hektar.
“Untuk lokasi ini sebagai pilot project dan sudah dilaunching oleh Gubernur Sumsel dan terus akan ditingkatkan bekerjasama dengan Badan Litbang LHK Palembang dan International Tropical Timber Organizer (ITTO) serta Dinas Kehutanan Provinsi Sumsel,” tandas Iskandar. Salah seorang peserta Bonn Challenge, Edward Heimond yang menjabat sebagai wakil Regional Manager Asia Pasifik of EDE Consulting mengatakan sangat terkesan dengan kawasan restorasi Sepucuk ini karena telah berhasil menerapkan iptek dalam perestorasian hutan dan lahan gambut.
![]() |
| Edward Heimond wakil Regional Manager Asia Pasifik of EDE Consulting |
“Saya sangat terkesan mendapati kenyataan bahwa lahan yang semula rusak parah ternyata dapat dikembalikan ke fungsi asalnya secara bertahap,” ujar Edward. Terpisah, Kabag Humas dan Protokol Setda OKI Hendra Anggara,S.STP melalui Adi Yanto, S.STP selaku Kasubag Pemberitaan dan Informasi Publik Setda OKI saat dimintai keterangannya menambahkan, kegiatan Bonn Challenge merupakan rangkaian upaya pemerintah untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) agar tak lagi menerpa Bumi Sriw
ijaya, khususnya Bumi Bende Seguguk. “Hadirnya Bonn Challenge ini tujuannya untuk berkontribusi terhadap landskap hutan yang bakal membangun tujuan ganda antara kepentingan sosial dan lingkungan, mitigasi dan perubahan iklim,” terangnya. Selain itu, kegiatan Bonn Challenge ini menjadi salah satu ajang untuk mempromosikan pembangunan berkelanjutan dan dapat menghasilkan manfaat bagi kita. “Tentunya keuntungan kita dapat sekaligus untuk melakukan promosi daerah,” tutupnya. Sumatera Selatan sebagai daerah yang memiliki 1,4 juta hektare lahan gambut saat ini menjadi perhatian dunia karena beberapa diantaranya telah mengalami kerusakan parah akibat kebakaran hutan dan lahan. Badan Restorasi Gambut menargetkan sebanyak 400.000 hektare lahan direstorasi dari 2016-2020. Pertemuan para menteri lingkungan Bonn Challlenge ini diharapkan semakin memperkuat inisiasi dari negara peserta Bonn Challenge yang ingin merestorasi 150 juta hektare hingga 2020.(editorJon Heri)









