Laporan Meida Sari
PALEMBANG, Jodanews – Barulah satu bulan menjabat sebagai, Direktur Kriminal Umum, Polda Sumsel kini telah melakukan pemetaan terhadap wilayah-wilayah yang masuk dalam rawan begal. Hal ini diungkapkan langsung dalam acara kegitan coffee morning bersama instansi terkait penanggulangan begal di wilayah Sumsel, Selasa (7/2/2017).
Dir Reskrimum Polda Sumsel Kombes Pol Prastejo Utomo mengungkapkan kalau Kota Palembang masuk dalam zona merah yang merupakan rawan begal. “Wilayah yang masuk rawan begal antara lain Palembang, Banyuasin, OKI, OKU Timur dan Ogan Ilir. Itu yang masuk zona merah rawan begal. Sedangkan wilayah lain masuk zona kuning atau sedang dan hijau atau tidak terlalu rawan,” ujarnya.
Tak hanya mengungkapkan zona merah yang wilayah masuk dalam rawan begal, tetapi masyarakat perlu juga mengetahui modus-modus yang digunakan para pelaku kejahatan ketika beraksi mulai dari melakukan menghadang, dobrak pintu, korban dipukul dan diikat. Sehingga baru pelaku kejahatan merampas barang-barang berharga milik korban.
“Jam yang biasanya menjadi waktu untuk para pelaku melaksanakan kejahatannya seperti pagi pukul 5.00-6.00, siang pukul 13.00-15.00, sore pukul 18.00 dan malam pukul 22.00-03.00. Lokasi yang biasanya dipilih pelaku kejahatan seperti jalan sepi, perumahan, pertokoan, perkantoran dan minimarket,” ujarnya.
Dari interogasi yang dilakukan terhadap para tersangka yang ditangkap, motif ekonomi yang dominan untuk melakukan tindak kejahatan. Selain itu, karena pengangguran, pendidikan rendah, pengaruh lingkungan juga berdampak seseorang untuk melakukan tindak kejahatan.
Dalam kegiatan coffee morning dengan berbagai pihak terkait untuk memecahkan masalah pencurian dengan pemberatan atau lebih dikenal begal.
Kapolda Sumsel Irjen Pol Agung Budi Maryoto menuturkan, tujuan dilaksanakan coffie morning ini untuk bersama-sama memecahkan permasalahan pencurian dengan pemberatan atau begal yang ada di Sumsel.
“Masyarakat masih belum mau memberikan informasi bila mengetahui tindak kejahatan. Ini yang harus diberikan pengertian betapa pentingnya peran masyarakat untuk bersama-sama menanggulangi begal,” ujarnya.
Selain itu, tindak pidana yang biasa dilakukan para pelaku kejahatan karena banyak faktor. Seperti jalur bandara hingga Jakabaring, yang masih banyak titik-titik gelap. Meski sudah meminta kepada pemerintah provinsi, namun memang belum ada tindakan.
Tak hanya peran serta masyarakat yang masih kurang, akan tetapi peran serta dari pemerintah daerah saat ini juga masih sangat kurang. Sehingga, tidak pelaku begal dewasa yang muncul, tetapi juga muncul pelaku begal dari kalangan anak-anak. Ini terjadi, bukan hanya kurangnya lapangan pekerjaan bagi para orang dewasa, namun juga pengawasan yang dilakukan mulai dari sekolah, lingkungan sekitar hingga orangtua tentang pengawasan dan perhatian sangat jauh.
“Polisi tidak bisa 24 jam berdiri untuk melakukan pengamanan. Jadi, perlu bantuan semua pihak termasuk masyarakat. Peran serta pemerintah daerah dan juga KPAI Sumsel juga masih sangat kurang,” ujar Agung.
Dari itulah, dengan adanya coffee morning ini setidaknya semua pihak yang hadir dapat mengetahui permasalahan yang ada hingga timbulnya tindak kejahatan yang melibatkan orang dewasa maupun anak-anak. (Editor Jon Heri)








