Laporan Meida Sari
PALEMBANG, Jodanews – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap Bupati Banyuasin, Yan Anton Ferdian dan beberapa pejabat di pemerintahan kabupaten tersebut. Selain Yan Anton, diketahui ada juga Sekertaris Daerah (Sekda) Banyuasin, Kepala Dinas Pendidikan Banyuasin, Kepala Bagian Rumah Tangga Banyuasin, dan pengusaha. OTT KPK tersebut terjadi di Rumah Dinas Bupati Banyuasin yang terletak di Jalan Lingkar No I, Komplek Rumah Dinas Perkantoran Pemkab Banyuasin. Penangkapan terjadi sekitar pukul 11.00 WIB, saat itu di rumah dinas tersebut sedang mengadakan acara yasinan karena Bupati Banyuasin beserta istri akan berangkat haji pada Rabu (7/9) mendatang. Setelah ditangkap, Yan Anton beserta sejumlah pejabat itu langsung dibawa ke Mapolda Sumsel. Setelah 5 jam didalam ruang Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sumsel, akhirnya Yan Anton dan sejumlah pejabat pun keluar ruangan sekitar pukul 17.00 WIB. Menuju bus polisi milik Polda Sumsel, untuk menuju ke bandara SMB II, dan langsung diberangkatkan menuju ke Jakarta. “Maaf ya, maaf ya, maaf ya. Permisi,” kata Yan Anton menjawab singkat pertanyaan dari awak media, sambil masuk ke dalam bus polisi yang sudah menunggu. Setelah itu, Yan Anton beserta 3 orang lain, serta barang bukti yang disita KPK berupa dua kardus Aqua dinaikkan kedalam bus polisi Polda Sumsel, yang sudah menunggu. Sekda Banyuasin, Firmansyah, juga sempat dibawa ke Polda Sumsel, Namun ia tidak ikut serta dalam rombongan. Sementara itu, Sekda Banyuasin, Firmansyah mengatakan, penangkapan OTT KPK itu merupakan musibah bagi Yan Anton dan pemerintahan kabupaten Banyuasin. “Ini adalah musibah. Semogaa dikuatkan untuk beliau, keluarga dan semua masyarakat Banyuasin. Saya dibawa ke Mapolda Sumsel ini untuk mendampingi beliau, karena beliau memberikan pesan untuk tetap menjalankan roda pemerintahan Banyuasin,” bebernya. Firmansyah juga enggan menjelaskan kasus apa yang menimpa Bupati Banyuasin. Ia hanya menceritakan kronologis penangkapan OTT KPK tersebut. Firmansyah mengakui sangat mengetahui dengan detail kronologis, karena pada saat itu, Firmansyah tengah berada di acara tersebut. “Tapi saya tidak tahu apa yang terjadi. Siapa-siapa yang dibawa juga saya tidak melihat. Saat dibawa dari Banyuasin kan ada 4 mobil, kami semua terpisah. Saat di Mapolda pun, mereka didalam ruangan, sedangkan saya diluar ruangan,” terangnya. Saya tidak ikut ke Jakarta untuk pemeriksaan lebih mendalam, ia pun dipesani untuk menjalankan roda pemerintahan di kabupaten tersebut. “Saya tidak ikut, tapi saya akan meneruskan roda pemerintahan,” cetusnya. Ditanya terkait kasus perizinan yang disebut-sebut menjadi masalah yang ada, Firmansyah enggan bicara. “Saya tidak tahu apa masalahnya. Saya benar-benar tidak tahu. Saya belum dapat info ini,” ungkap Firmansyah. (Editor Jon Heri)








