Laporan Meidasari
MUARA ENIM, Jodanews – Lebih kurang 10 hektar sawah di dua desa yakni Desa Cahaya Alam dan Datar Lebar, Kecamatan Semende Darat Ulu (SDU), Muara Enim terancam tidak bisa di garap tahun ini, lantaran aliran irigasi tradisional Siring Panjang yang selama ini digunakan untuk mengaliri areal persawahan tersebut masih mengalami kerusakan. Kalaupun ada perbaikan yang dilakukan selama ini swadaya masyarakat, namun hasilnya tidak maksimal. Tahun ini saja, dari 80 Ha sawah yang ada setidaknya 10 Ha yang benar-benar tidak bisa digarap dan menjadi lahan tidur, serta sisanya hanya bisa digarap sebagian. Kepala Desa Cahaya Alam Amrollah mengatakan, longsor parah yang merusak aliran irigasi tersebut terjadi awal tahun 2016 lalu. Dimana saat itu, kata dia, para petani sedang melakukan garapan sawah. Karena ada kejadian aliran irigasi longsor, baik yang tertimpa tanah atau badan irigasi amblas, maka sawah garapan petani banyak yang tidak bisa diselesaikan,karena tidak ada posakan air. “Makanya tahun ini sangat sedikit petani di areal sana yang bisa sampai panen, itupun hasilnya tidak maksimal,”ujarnya, Rabu (10/8).
Menurutnya, jika tahun ini tidak ada penanganan lebih lanjut kepada aliran tersebut, bisa dipastikan puluhan hektar sawah dikawasan tersebut tidak bisa digarap. Padahal mengelola sawah dan bertanam padi, merupakan salah satu mata pencarian utama petani selain berkebun kopi. “Kami sangat berharap tahun ini segera ada penanganan dan kejadian itu sudah kami laporkan ke pihak terkait di Pemkab Muara Enim. Namun hingga sekarang belum ada tindak lanjutnya,”ujarnya. Dia menambahkan, perbaikan yang dilakukan terhadap irigasi tersebut dilakukan masyarakat secara swadaya. Dimana pada badan saluran yang amblas dipasang pipa seadanya untuk menyalurkan air. Pipa tersebut didapat dari pinjaman kepada warga setempat. Hanya saja menurutnya, tahun ini pipa tersebut akan diminta kembali. “Kalau pipanya dilepas karena diambil pemiliknya, jelas tidak aka nada sama sekali pasokan air,”tandasnya. Sudarman warga Desa Datar Lebar menambahkan, pengguna air dari irigasi Siring Panjang bukan hanya petani di Desa Cahaya Alam saja. Secara luasan jumlah areal persawahan yang menggunakan air yang bersumber dari irigasi Siring Panjang lebih banyak berada di Desa Datar Lebar. “Kalau banyak bidangnya, jauh lebih banyak dan luas di Desa Datar Lebar dan rata-rata sawah yang ada menggunakan air dari sana,”jelasnya.
Selama ini menurutnya petani pemilik sawah secara bergantian mengontrol lokasi atau titik-titik kerusakan di saluran tersebut. Karena jika tidak, sawah mereka tidak bisa mendapatkan pasokan air. “Jadi bergantian, kalau ada kerusakan sedikit langsung dibenari, makanya masih ada yang bisa digarap,” ungkapnya. (editor Elan)








