Laporan : Agus Subhan Bakin
EMPAT LAWANG, Jodanews- Fenomena budaya buruk dalam perayaan kelulusan sekolah yang telah berlangsung selama ini menjadi dilema mulai dari pendidik hingga ke wali murid. Inilah ungkapan rasa para siswa dalam meluapkan rasa senang karena lulus dari sekolah tingkat atas.Seperti pantauan dilapang wartawan ini, Siswa-siswi SMA MAN ini melakukan aksi corat coret di jalanan, memblokir jalan dan lanjut berkompoi kejalanan.Sabtu Sore (7/5/2016). Padahal aksi tersebut dapat merugikan para siswa-siswi baik secara pribadi maupun masyarakat umum seperti aksi coret-coret yang dilakukan itu akibatnya pakaian tidak dapat dipakai lagi oleh adiknya, adik kelasnya atau orang yang memang sangat membutuhkanya. “Aksi corat-coret itu tidak bagus, mending baju nya kita sumbangkan atau ke adek kelas kita”, Kata Cherin Novika atau biasa disapa Olin yang siswi SMA N1 yang baru saja kelulusan. Olin juga mengatakan, dari aksi kompoi-kompoi bermotor dijalan-jalan dapat mengakibatkan gangguan jalan raya dan mengganggu pengguna jalan tersebut bahkan bisa saja dapat menjadi kejadian kecelakaan lalulintas yang tentunya membahayakan dirinya dan pengguna jalan lainya. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Empat Lawang, Dra Agusni Effendi MM telah menghimbau agar para siswa dan siswi untuk melakukan aksi corat-coret dan kompoi-kompi dijalan. Hal ini tidak hanya disampaikan melalui media akan tetapi hal ini sebelumnya telah dikoordinasi melalui seluruh kepala sekolah dan wakil-wakilnya. Menurutnya, Kelulusan tidak ditentukan dari hasil UAN, akan tetapi kelulusan ditinjau dari hasil siswa selama belajar disekolah tersebut. UAN sifatnya hanya pemetaan kualitas pendidikan dan pembinaan terhadap para siswa dan siswi. Sementara Itu Akbar (23) warga PJKA sangat menyayangkan apabila ada siswa yang masih melakukan aksi coret dan kompoi dijalan. Alangkah baiknya pakaian tersebut dimanfaatkan ke hal yang posifit seperti disumbangkan kepanti asuhan yang memang benar membutuhkan. “Tidak seperti itu rasa meluapkan kesenangan, ada hal yang positif dapat dilakukan dalam meluapkan rasa kesenangan seperti melakukan yasinan ataupun hal positif lainya. Corat-coret dan kompoi adalah budaya salah, itu gunanya pendidikan disekolah yang telah mengajarkan etika,” Ujar Akbar. (Editor Jonheri)








