Home HL Mahasiswa KKN di Empatlawang Kemalingan

Mahasiswa KKN di Empatlawang Kemalingan

160
0

Laporan : Agus Subhan Baken

EMPATLAWANG,jodanews – Mahasiswa Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Lubuklinggau yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Kebon Kecamatan Saling Kabupaten Empatlawang kemalingan, sejumlah barang-barang milik mahasiswa hilang, berupa Handpone, dan 25 pasang sepatu, pakaian, bahkan beras sebanyak 20 Kilo hilang.
Informasi yang dihimpun hilangya barang milik mahasiswa, Rabu (3/2) sekitar pukul 04.00 fajar. Karena menurut Wakil ketua kelompok 36, Supandi, yang KKN di Desa Kebon, sekitar pukul 03.00 ia bersama rekanya masih berjaga dan sempat makan dan minum sebelum tertidur.
” Barang kami yang hilang dua ponsel, beras 20 Kg, sepatu 25 pasang, pakaian dalam beserta ember,” ungkap Supandi, Wakil Ketua Kelompok 36 KKN di Desa Kebon kepada wartawan Rabu (3/2) mewakili kelompoknya.
Akibat kejadian ini, peserta KKN yang handponenya tidak ikut di embat maling, harus menghubungi dosen pembimbing menyampaikan kejadian ini.
“Sudah kami sampaikan ke dosen pembimbing,” kata Supandi didampingi Ketua kelompok 36 Mulroni. Pj Kepala Desa Kebon, Kecamatan Saling Kabupaten Empatlawang, Bahagia Utama, dikonfirmasi di rumahnya membenarkan adanya kejadian ini, ia mengatakan telah menyampaikan kejadian ini ke-kecamatan. “Sudah kami sampaikan ke Camat,”ungkap Bahagia Utama.
Dilanjutkan Bahagia Utama, pihaknya akan bermusyawarah dengan warga desa akan membentuk kembali poskamling desa.
Salah satunya orang tua mahasiswa, Aprianysah, sengaja datang dari Tebingtinggi untuk melihat kondisi anaknya setelah di hubungi anaknya yang KKN.
“Saya khawatir, kalau beras dan peralatanya hilang, nanti mereka mau makan dari mana, jadi saya datang kesini,” ungkap Apriansyah dibincangi wartawan
Mendengar adanya kejadian tersebut Camat Saling, Reza Fahlefi langsung mendatangi rumah mahasiswa KKN di Desa Kebon Kecamatan Saling Kabupaten Empatlawang.
Reza Fahlefi mengatakan kejadian ini dampak dari lemahnya ekonomi dikalangan petani yang rata-rata bermata pencaharian pertani karet. “Ini dampak dari rendahnya harga getah karet disini paling tinggi perkilo Rp 4.000 sedangkan beras perkilonya Rp 9.000,  hampir tiga kilo karet baru dapat 1 kilo beras,”ungkap Reza. (editor Jonheri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here