Laporan : Agus Subhan Baken
EMPAT LAWANG,jodanews – Saat ini, di Ibu Kota Kabupaten Empat Lawang, banyak bermunculan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) atau dalam bahasa lainnya yakni Orang Gila (Orgil.red). Bahkan, banyak wajah-wajah baru ODGJ yang bermunculan, diduga, banyaknya ODGJ ini merupakan kiriman dari kabupaten/kota tetangga yang sengaja menempatkan ODGJ di Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Empat Lawang.
Pantauan dilapangan, sejak beberapa hari terakhir, banyak ODGJ baik pria dan wanita berkeliaran di Pasar Tebing Tinggi. Ekstrimnya, ada satu ODGJ wanita minim busana, sehingga bagian sensitif bisa terlihat oleh khalayak ramai. Bahkan, informasi yang beredar, ODGj ini kerap nongkrong di perumahan warga dan perkantoran. Tak pelak, keberadaan ODGJ membuat risih sebagian masyakarat.
Kacik (34), salah satu pedagang di pasar Tebing Tinggi, membenarkan, banyaknya sejumlah orang gila yang kerap berkeliaran di wilayah pasar. “Waduh sudah tak terhitung, kalau mau buat tim sepak bola mungkin malah lebih,” katanya, Senin (15/2)
Ia dan sejumlah pedangan lainnya merasa resah dengan keberadaan ODGJ. “Risih dan resah jelas ada, siapa tau, orang tersebut bawak satjam (senjata tajam.red) atau berbuat onar, kan kita tidak tahu, rasa takut itu manusiawi, kita tetap wasapada sajalah,” katanya
Ditambahkan, Fen (30), warga yang sama, Dirinya menyebut, semestinya pihak pemerintah atau pun terkait harus cepat tanggap jika ada rasa kekhawatiran dari masyakarat. “Harusnya begitu, jangan dibiarkan begitu saja, nanti kalau ada orang gila bunuh orang, baru pura-pura glabakan,” cetusnya seraya menyebut pemerintah lamban merespons keluhan masyarakat.
Namun sayangnya,pihak Dinas Sosial Ketenaga Kerjaan dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Empat Lawang, selaku Leading Sector belum bisa dikonfirmasi.
Sementara itu, Kasat POL PP Empat Lawang, Suandi Soni, belum lama ini menuturkan, pihaknya berencana akan melakukan penertiban orgil dan gepeng di Tebing Tinggi. “Kita akan tertibkan, yang jelas kita harus berkoordinasi dengan dinas terkait dulu,” tukasnya (editor Jon Heri)







