Home HL Teknologi Baru Untuk Kesehatan Jantung

Teknologi Baru Untuk Kesehatan Jantung

78
0

[quote]Laporan :rilis[/quote]

JAKARTA, jodanews – Angka kematian akibat Penyakit Kardiovaskular atau Cardiovascular Disease (Heart Disease) tiap tahun terus mengalami peningkatan. Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2014, sekitar 37 persen kematian penduduk Indonesia disebabkan Penyakit Kardiovaskular. Memahami bahayanya penyakit Kardiovaskular, Mount Elizabeth Hospital Singapore kembali mengadakan Health Talk bertajuk “Sayangi Jantungmu” untuk mengedukasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang menjaga kesehatan jantung.

Specialist Interventional Cardiologist Mount Elizabeth Hospital Singapore Dr Dinesh Nair dan Co-Founder IndoRunners Yomi Wardhana hadir untuk berbagi kisah serta informasi mengenai teknologi-teknologi terbaru dalam pengobatan Penyakit Kardiovaskular.

Saat ditemui di acara tersebut, Specialist Interventional Cardiologist Mount Elizabeth Hospital Singapore Dr Dinesh Nair menyatakan seharusnya 90% dari Penyakit Kardiovaskular dapat dicegah. Identifikasi dan penanganan awal dapat meningkatkan success rate pengobatan Penyakit Kardiovaskular sehingga dapat menjamin kualitas hidup yang lebih baik bagi para penderita. “Pencegahan Penyakit Kardiovaskular dapat dilakukan dengan mengurangi faktor-faktor resiko salah satunya dengan mengatur pola makan. Tetapi bila tidak dapat dihindari, penanganan lebih awal sangat direkomendasikan untuk hasil pengobatan yang lebih memuaskan,” ungkap Dr Dinesh.

Pada umur tertentu, tingkat kematian akibat Penyakit Kardiovaskular menjadi umum dan meningkat di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Gaya hidup yang tidak sehat merupakan salah satu penyebab utama Penyakit Kardiovaskular. Makanan cepat saji, kebiasaan merokok, dan stress merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat kini. Survey yang dilakukan oleh AC Nielsen menunjukkan bahwa 69% masyarakat Indonesia mengonsumsi makanan tidak sehat yang meningkatkan risiko terserang Penyakit Kardiovaskular.

Walau begitu, ada pula kasus dimana pasien terserang Penyakit Kardiovaskular karena faktor lainnya.  Yomi Wardhana, co-founder IndoRunners, divonis menderita kebocoran jantung pada tahun 2007. Sejak muda, Yomi dikenal sebagai olahragawan sejati. Kecintaan terhadap olahraga menginspirasinya untuk mendirikan IndoRunners bersama rekan-rekan. Yomi menjalankan operasi bedah jantung di Mount Elizabeth Hospital Singapore pada November 2013 dan kini telah kembali dapat menjalankan aktivitasnya sehari-hari, termasuk aktif berlari.

“Antara tidak percaya dan terguncang waktu mendengar vonis penyakit itu. Saat itu, saya dianjurkan untuk pensiun berlari oleh dokter. Namun hal itu tidak membuat saya putus asa. Pengobatan secara maksimal dan berkonsultasi dengan dokter spesialis saya lakukan agar dapat kembali sehat dan berlari.” Ungkap Yomi.

Kini teknologi dan teknik pengobatan telah berkembang pesat, sehingga dapat memberikan harapan kesembuhan lebih besar kepada para penderita Penyakit Kardiovaskular. Kini, telah tersedia serangkaian pilihan prosedur pengobatan, salah satunya adalah bedah minimal invasif untuk mengobati penyakit jantung. Mount Elizabeth Hospital Singapore sebagai rumah sakit pertama di Singapura yang melayani kateterisasi jantung, memiliki serangkaian pilihan untuk pelaksanaan prosedur minimal invasif berbasis kateter yaitu seperti Transcatheter Aortic Valve Implantation (TAVI) untuk kelainan katup jantung, Terapi Renal Denervation (RDN) untuk hipertensi, Bioabsorbable Vascular Scaffold (BVS) atau reabsorbable stents utuh untuk penyakit arteri koroner, serta berbagai perkembangan baru lainnya di bidang Kardiologi.

Teknik bedah minimal invasif bertujuan untuk meminimalkan rasa sakit, dan waktu pulih yang lebih cepat. “Prosedur bedah minimal invasif dijalankan hanya dengan melalui sayatan kecil tanpa perlu membuka rongga dada pasien. Dengan minimalnya area sayatan, proses pemulihan pasien menjadi lebih cepat sehingga dapat membantu pasien dari segi biaya. Selain itu, bedah minimal invasif membuat pasien dapat segera beraktivitas sehingga tidak memerlukan waktu inap yang lama,” terang Dr Dinesh.

Prosedur minimal invasif dilakukan dengan membuka sumbatan pada pembuluh darah koroner sehingga aliran darah menuju jaringan otot jantung dapat dikembalikan ke kondisi normal. Prosedur dilakukan menggunakan kateter melalui pembuluh darah di paha atau lengan menuju ke pembuluh darah koroner di jantung.

“Proses diagnosis problem-problem kesehatan yang berpengaruh dapat menentukan siapa yang berisiko dan bagaimana prosedur penanganan canggih yang tersedia saat ini,” tutup Dr Dinesh. (editor:asep)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here