SEMANGAT TIM SATGAS TMMD KE-109 DI TENGAH PANDEMI COVID 19

Karya Tulis Jurnalistik Kapendam II/Sriwijaya Kolonel Inf Djohan Darmawan

Semangat yang tidak pernah pudar selalu ditunjukkan oleh anggota Satgas TMMD ke-109 saat melaksanakan tugas membuka serta memperbaiki infrastruktur di wilayah sasaran baik di Kabupaten Empat Lawang maupun OKU Selatan Sumatera Selatan.
TMMD ke-109 yang dilaksanakan pada tahun 2020 ini dirasa bukanlah perkerjaan ringan, namun tetap istimewa dan berbeda, hal tersebut dikarenakan TMMD dilaksanakan di tengah Pandemi Covid-19 yang saat ini tengah melanda Indonesia tidak terkecuali wilayah Sumbagsel.

Dalam setiap kegiatan, semua tim Satgas TMMD tetap semangat, karena semua kegiatan juga harus selesai sesuai dengan target yang telah ditetapkan.
Terasa sulit memang, tapi sepanjang sejarahnya, TMMD selalu siap di segala medan dengan tantangan yang berbeda.

Hal tersebut tidak terlepas karena begitu besarnya kecintaan TNI kepada masyarakat. TNI tidak ingin masyarakat hidup dalam keterbelakangan dan terisolasi dari dunia luar karena jeleknya infrastruktur dan yang paling membanggakan adalah masyarakatpun ikut serta menjadi bagian dalam menyukseskan kegiatan TMMD tersebut.

Bukan hanya itu saja, selalu ada hal dan cerita baru dalam setiap pelaksanaan TMMD, hal tersebut dikarenakan nilai-nilai kemanunggalan TNI Rakyat dalam setiap kegiatan TMMD tidak pernah luntur, dan yang lebih menarik adalah masyarakat seakan tidak rela membiarkan anggota bekerja
sendiri, mereka selalu mengambil bagian untuk berpartisipasi membaur bersama prajurit TNI/Polri.

Pesan yang didapat adalah: TMMD merupakan komitmen TNI Angkatan Darat untuk ikut membangun bangsa dan negara bersama komponen bangsa lainnya secara bersinergi dan berkesinambungan. Tujuannya adalah membangun Daerah Miskin, Tertinggal dan Terisolir (Terpencil), yang dilaksanakan bersama dengan Bappeda Provinsi, Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa Provinsi (BPMPDP) serta Pemerintah Daerah atau Kabupaten/Kota.

Selanjutnya selain Pembangunan Daerah Tertinggal, terluar dan terbelakang, TMMD sebagai bentuk pengabdian TNI demi terwujudnya pertahanan negara di daerah tangguh, juga merupakan upaya TNI untuk berkontribusi melestarikan sejarah terutama nilai kegotongroyongan dan kemanunggalan TNI-Rakyat.

Secara Substansial, TMMD dapat dipandang sebagai tesis keterlibatan TNI dalam pembangunan pedesaan, sedangkan dari sisi formula, TMMD menjadi lompatan metodologi pembangunan yang mengacu pada kesederhanaan, kebersamaan, gotong royong dan koordinasi lintas sektor dari beberapa instansi/lembaga. Sehingga tepat jika dikatakan TMMD Menumbuhkan Nilai Kebersamaan Seluruh Komponen Bangsa.
Melalui TMMD terdapat nilai kebersamaan dan rasa senasib sepenanggulangan, pekerjaan yang kelihatannya berat bisa menjadi ringan karena dilaksanakan secara bersama-sama atau gotong royong, dan hasil yang dikerjakan juga sangat berkualitas.

Melalui program TMMD, TNI/Polri, Pemda, masyarakat desa bersama organisasi kemasyarakatan bahu membahu membangun dan memperbaiki sarana dan prasarana maupun infrastruktur yang ada desanya, tidak hanya berupa fisik, namun juga ada pembinaan mental, penyuluhan dan kegiatan sosial lainnya. TMMD ikut berperan dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan gotong royong dan kecintaan terhadap NKRI dan ideologi Pancasila.

Pengabdian TNI untuk Bangsa dan Negara.

Kegiatan Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) bukan hanya melepas tugas rutinitas dan bekerja sembarangan, namun hasil yang maksimal selalu menjadi tujuan dari setiap pekerjaan, sehingga diharapkan setelah program selesai masyarakat bisa menikmati hasil tersebut dengan baik dan dalam jangka waktu yang lama. Kegiatan pembangunan infrastruktur sarana dan prasarana serta kegiatan sosial lainnya dilaksanakan semata mata untuk mengatasi kesulitan-kesulitan rakyat, membuka akses yang tinggal di pelosok menjadi terbuka dan berdampak terhadap ekonomi.

Selama satu bulan, berbagai sasaran fisik yang menjadi sasaran TMMD ke-109 harus selesai sesuai dengan alokasi waktu yang telah ditetapkan. Adapun sasaran fisik pada TMMD ke-109 di wilayah Kodam II/Sriwjaya diantaranya adalah: pembukaan jalan penghubung desa, perehaban/pembangunan tempat ibadah, penyuluhan Hukum, Kesehatan, Pendidikan serta Baksos. TNI berkomitmen Program TMMD yang dilaksanakan 3 kali dalam setahun harus dapat dirasakan manfaatnya oleh rakyat, sehingga tidak mengherankan jika

Pemerintah Daerah berlomba-lomba agar daerahnya dijadikan sasaran pelaksanaan TMMD.

Dalam pelaksanaan kegiatan TMMD, baik fisik maupun non fisik, Satgas TMMD yang terdiri dari Angkatan Darat (AD) Angkatan Laut (AL) Angkatan Udara (AU) tidaklah sendiri akan tetapi terintegrasi dengan semua lapisan masyarakat, dan Pemerintah Daerah serta diperkuat oleh unsur Polri setempat.

Daerah Sasaran Merasakan Percepatan Pembangunan.

Wakil Bupati OKU Selatan Sholehien Abuasir, SP., M.Si., merespon positif Kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-109 Tahun Anggaran 2020 yang dilaksanakan di Desa Simpang Pancur dan Desa Pagar Agung Pulau Beringin.

Menurutnya, kegiatan TMMD dilaksanakan dengan kriteria sasaran berupa Daerah Miskin, Tertinggal, Terisolir (Terpencil), daerah kumuh perkotaan, daerah perbatasan dan Pulau terluar merupakan bhakti TNI yang dilaksanakan secara terpadu dan lintas sektoral bersama Kementerian/LPNK, Pemerintah Daerah serta komponen Masyarakat sebagai upaya mendukung Program Pemerintah dalam rangka percepatan Pembangunan di wilayah serta merupakan perwujudan komitmen moral TNI dan Pemerintah kepada Rakyat untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemajuan Masyarakat.

Secara terpisah Rudi Hartono usia 55 tahun, warga asal Desa Tanjung Raman Kec. Pendopo Kab Empat Lawang mengaku merasa senang dengan adanya TMMD yang dilaksanakan di desanya. “Kami senang karena selama ini membawa hasil pertanian di panggul, dengan adanya jalan besar yang dibangun oleh TNI melalui TMMD ini, maka hasil pertanian bisa dibawa memakai motor,” ujarnya dengan rasa gembira.

Hal yang sama juga disampaikan Supriyono usia 55 tahun warga jalan Desa Pancur Kec. Pulau Beringin Kab. OKU, ia merasa sangat senang, dengan dibukanya jalan ini dia bisa mengangkut hasil kebun berupa kopi untuk dipasarkan dengan mudah. “Dahulunya sebelum ada jalan ini petani setempat menggunakan jasa ojek untuk mengangkut hasil buminya, sekarang tidak lagi, kami sudah bisa melakukannya sendiri,” tuturnya.
Terakhir penulis berharap paska kegiatan TMMD, bukan hanya seluruh sasaran kegiatan fisik maupun non fisik yang telah direncanakan dapat selesai secara tuntas, namun ada kenangan yang membekas secara mendalam di hati sanubari masyarakat, bahwa di desa mereka pernah dilaksanakan kegiatan TMMD, dimana selama 30 hari masyarakat bersama Satgas TMMD menyatu dalam semangat kebersamaan serta gotong royong yang terpancar di setiap wajah sekaligus cucuran keringat yang membasahi tubuh masyarakat maupun aparat yang bersama-sama bekerja di lapangan. Hal ini menjadi refleksi kekuatan yang sangat besar dari segenap komponen bangsa, yang memiliki visi, misi dan tujuan bersama guna mengatasi berbagai persoalan pembangunan serta problematika kesejahteraan masyarakat. (Editor Jon Heri)

   



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *