Home HL Pungli Merajalela, Suplai Sayur Terancam Berhenti

Pungli Merajalela, Suplai Sayur Terancam Berhenti

65
0

[quote]Wako Pagaralam Ancam Polisikan Pemalak di Prabumulih[/quote]

[quote]Laporan: Taufik Hidayat[/quote]

PAGARALAM, jodanews – Maraknya aksi pungutan liar (Pungli) di Prabumulih, berdampak pada suplai sayur mayur ke sejumlah daerah. Tidak hanya di Sumsel, sayur asal Kota Pagaralam ini pun dikirim hingga ke Provinsi Bangka – Belitung dan Jambi. Namun sejak merebaknya aksi pungli di Prabumulih, sopir angkutan sayur tak lagi mengirim hasil bumi mereka. ‘’ Saya sering menerima keluhan dari para sopir. Mereka mengaku tak bisa melintas di Prabumulih, lantaran dipungli. Besarannya pun sudah di luar kewajaran, antara Rp300ribu hingga Rp700ribu per mobil. Kalau dibiarkan terus seperti ini, bukan tidak mungkin, sayur mayur diberbagai daerah akan langka. Karena pasokannya terhambat gara – gara pungli, ‘’ jelas Walikota Pagaralam, dr Hj Ida Fitriati Basjuni.

Ida menambahkan, permasalahan pemalakan yang dialami truk sayuran di Prabumulih butuh perhatian khusus. “Saya sudah menghubungi Walikota Prabumulih. Bahkan dalam waktu dekat ini kami akan melaporkan langsung permasalahan ini ke Polda Sumsel,” ujarnya. Ida mengakui, permasalahan tersebut bisa berdampak serius ke sektor ekonomi, tidak hanya di Pagaralam, tetapi daerah lain, termasuk di Palembang dan Provinsi Bangka Belitung. “Perlu diketahui, Pagaralam merupakan pemasok sayuran terbesar di Sumsel.

Jika distop, pasar Palembang akan kekurangan pasokan sayur. Petani di Pagaralam pun akan terkena dampaknya,” jelasnya. Sebelumnya, para sopir angkutan sayur menggelar aksi demo di Pagaralam dan Kabupaten Lahat. Menurut para sopir, pelaku pungli terkadang juga merampas handphone. “ Kalau tidak, kami tidak boleh melintas, ‘’ kata salah seorang sopir, Jhonson. Di Pagaralam, para sopir pengangkut sayur tersebut meluapkan keresahannya dengan aksi di Terminal Nendagung Kecamatan Pagaralam Selatan.

Dari aksi itu terungkap, dalam sekali perjalanan mengantar sayur ke Pasar Induk Jakabaring, mereka harus mengeluarkan biaya hingga Rp600 ribu. Aksi pemalakan itu sudah berlangsung lama, bahkan akhir-akhir ini semakin merajalela. Untuk perlu tindakan tegas dari aparat kepolisian. “Kemana lagi kami minta perlindungan kalau bukan kepada pemerintah daerah dan kepolisian. Mau melawan tidak mungkin, mereka jumlahnya lebih banyak,” katanya. Para sopir berharap bisa melintas di jalan dalam kota.

“Kami minta kepada Gubernur, Kapolda dan Bupati, untuk mengizinkan kami melintas di jalan dalam kota Prabumulih, kalau jalan lingkar itu sudah sangat parah, dikawal saja masih dirampok,” ujar Jhonson. Dikatakan jhonson keluhan tersebut sudah disampaikan kepada pihak berwajib, namun sampai kini belum ada tanggapan. Buktinya aksi kawanan pemalak masih terus berlangsung.

Salah satu agen sayuran, Medi, 38 mengatakan, setiap hari para sopir mengeluh lantaran selalu dipalak dan dirampok di jalan di Kota Prabumulih. Kejadian ini sudah terjadi sejak enam bulan belakangan. “Yang memeras bertambah banyak. Kemungkinan besar karena tidak ditertibkan, sehingga terus menjamur, ‘’ jelasnya. (editor: asep yusriansyah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here