Laporan Hasan Basri
PALEMBANG, Jodanews.com – Berbeda latar belakang bukan bearti harus tidak saling menghargai dan menghormati, buktinya Yayasan Perguruan Baptis yang berlatar belakang Kristen, namun untuk menerapkan saling menghargai dan juga meningkatkan solidaritas mereka merayakan imlek sebagai hari besar etnis Tionghoa.
Pendetan Immanuel Rajiono STh MA selaku Pembina Yayasan Perguruan Baptis Palembang, mengatakan kegiatan perayaan imlek sudah menjadi kebiasaan rutin yang diadakan oleh Baptis, sebagai ungkapan saling menghargai. Karena Baptis sendiri menjunjung tinggi toleransi, sesuai tema “Menciptakan Generasi Cerdas Terampil dan Berkarakter”. “sekolah baptis memiliki siswa/i dari banyak etnis, yakni Batak Jawa Manado Tionghia dan orang pribumi Palembang.
Dia mengatakan, mayoritas 70 persen adalah chinesse, oleh karena itu kami ikut merayakan imlek sebagai simbol kerukunan di sebuah lembaga. Saya pribadi selama 6 tahun disini (Baptis, red) juga menerapkan budaya mengadakan buka bersama setiap bulan puasa untuk menghormati orang muslim, karena guru-guru juga banyak beragama islam.”katanya. (Jum’at (1/2/2019)
Lebih lanjut, Ketua Yayasan Perguruan Baptis Palembang Paulus Bumantoro SE, menambahkan meski adanya perbedaan, kita harus saling menghormati. Itu menjadi alasan kita ikut merayakan imlek. “Semua agama kita hormati, dengan multi etnis apapun. Bagi kami sebagai pimpinan yayasan tidak ada masalah dengan setiap kegiatan tersebut, karena kami menilai, disekolah kita yang multietnis. Kami menghargai dan menjaga kedisiplinan saling menghargai satu sama lain,”ujarnya
Sementara itu, Kepala Sekolah TK Baptis, Lia Christiani, S.Pd.K menjelaskan, dalam rangka perayaan Imlek yang jatuh tanggal 1 Februari, Yayasan Baptis juga mengadakan berbagai macam lomba baik untuk tingkat TK dan SD. kegiatan perlombaan dan perayaan imlek dilaksanakan puncak festival oleh anak-anak TK Baptis, Jumat pagi (1/2).
“Dalam festival ini anak TK diajarkan berani tampil didepan umum, mereka tampil dalam mewarnai lomba yang digelar seperti, lomba mewarnai, karoke, busana bahkan lomba robotik, Adanya lomba ini kita ingin mereka dapat saling menumbuhkan rasa solidaritas dan saling menghargai,”tutupnya. (Editor Jon Heri)








