[quote]Laporan:abiyasa[/quote]
PALEMBANG, jodanews – Gerhana Matahari Total (GMT) yang terjadi pagi tadi di Palembang membuat suasana gelap gulita. Fenomena ala mini hanya terjadi kurang dari 2 menit, meski demikian ratusan atau bahkan ribuan pasang mata, menjadi saksi detik-detik saat bulan menutupi matahari.
Ketua Pusat Sains dan Teknologi Atmosfir Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Ali Murahman menjelaskan, terjadi beberapa fase saat GMT di Palembang, Rabu (9/3). Fase itu diawali dengan bergesernya piringan bulan menuju matahari pukul 06.20 WIB. Pada saat itu, bulan bergeser dari atas dan secara perlahan ke bawah.
Kemudian, pada pukul 07.00 WIB, piringan bulan hampir menutupi sebagian matahari. Presentase gerhana saat itu mencapai 40 persen. Selanjutnya, pukul 07.15 WIB, matahari tertutup bulan sebesar 80 persen sehingga berbentuk seperti bulan sabit. Pada pukul 07.19 WIB, langit di Palembang mulai gelap karena 90 persen matahari sudah tertutup bulan hingga fase Gerhana Matahari Sebagian berakhir.
Barulah pada pukul 07.21 WIB, gerhana matahari total terjadi. Saat itu, matahari sepenuhnya ditutupi bulan. Kondisi menjadi gelap selama 1 menit 52 detik seperti malam hari karena sinar matahari hilang.
Menjelang Gerhana Matahari Total, muncul untaian manik mutiara cahaya matahari dari pinggir piringan bulan yang menutupi piringan matahari. Saat untaian mutiara cahaya itu hampir berakhir dan cahaya matahari nyaris terhalang piringan bulan, muncul cahaya dari bagian dalam korona (atmosfer paling atas matahari). Cahaya korona mengelilingi piringan bulan membentuk pola cahaya dinamai cincin berlian (diamond ring).
“Ini adalah saat gerhana matahari total. Momen ini ditunggu-tunggu untuk diabadikan,” terangnya. Setelah itu, bulan berangsur-angsur bergeser. Sekitar pukul 08.31 WIB, bulan kembali ke orbitnya dan cahaya matahari kembali normal terlihat. Diperkirakan GMT akan kembali hadir 375 tahun yang akan datang. (editor:asep)








