Home HL Widodo : Dua Raport Menambah Rumit Penilaian

Widodo : Dua Raport Menambah Rumit Penilaian

153
0

Laporan Hasan Basri

PALEMBANG, Jodanews  – Kepala Dinas Pendidikan Sumsel, Drs .Widodo, M.Pd mengungkapkan Adanya kebijakan baru dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk memberikan dua rapor bagi siswa dirasa cukup bertele-tele dan dikhawatirkan akan menambah rumit pola penilaian bagi siswa.

Menurutnya, kebijakan baru dari Menteri tersebut terlalu berlebihan. “Seharusnya Kementerian lebih fokus pada substansi bagaimna pemerataan pendidikan. Tak perlu membuat regulasi yang rumit dan dampaknya tidak terlalu signifikan,” ujarnya, Rabu (6/9).

Menurutnya, jika memang pendidikan karakter dan ekstrakulikuler harus mendapat penilaian khusus, maka tetap letakkan saja di rapor utama. Disandingkan pada nilai mata pelajaran lainnya. “Kalau kertasnya kurang panjang atau halamannya tak muat, kan dibalik bisa. Buku rapor sekarang kan lebih besar dan lebar dari rapor zaman dulu. Manfaatkan lembar yang tersisa saja,” sarannya.

Kendati demikian, aturan tetaplah aturan. Pihaknya secara legowo menerima kebijakan tersebut apabila waj8b diterapkan, terlebih lagi instruksi dari Kementrian. “Kita lihat saja nanti ke depannya bagaimana, kalau disuruh buat dua rapor, ya kita jalankan,” ungkapnya.

Selain itu, ia menjelaskan Kemendikbud juga tidak bisa membuat kebijakan mengisi tambahan jam belajar siswa dengan ekstrakurikuler. Apalagi ekstrakurikuler itu dikaitkan dengan pendidikan karakter. Sebab banyak ekstrakurikuler yang muatan karakternya tidak dominan. “Kalau jam kurikuler selesai, siswa jangan dipaksa untuk terus berada di sekolah,’’ tegasnya.

Sebelumnya, kebijakan setiap siswa terima dua buku rapor ini sudah disosialisasikan secara nasional oleh Kemendikbud. Mendikbud Muhadjir Effendy menuturkan bahwa buku rapor untuk menilai ekstrakurikuler atau pendidikan karakter anak itu tidak serumit buku rapor akademik. Rapor tersebut cukup ada dua catatan saja sudah bagus. Misalnya catatan siswa bersangkutan pernah jadi ketua OSIS, dan itu menunjukkan memiliki karakter kepemimpinan.

Muhadjir mengatakan guru harus mengamati anak-anak ketika mengikuti ekstrakurikuler. Tidak boleh dilepas begitu saja. Sehingga buku rapor catatan ekstrakurikuler atau pendidikan karakter itu penting buat guru dalam memantau aktivitas anak-anak di luar jam pelajaran atau intrakurikuler . Muhadjir juga mengatakan, teknis  atau format buku rapor untuk menilai rekam jejak karakter siswa itu sedang dimatangkan oleh Balitbang Kemendikbud. (Editor Jon Heri).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here