Home HL Selamat jalan Pak Harmoko

Selamat jalan Pak Harmoko

146
0

JAKARTA, jodanews.com-Harmoko Asmoprawiro adalah salah seorang yang cukup dekat dengan (alm.) Ayah saya di dunia kewartawanan. Yang memungkinkan saya, beberapa kali pernah bertemu dan berinteraksi semasa hidupnya. Terakhir bertemu ketika beliau  menjadi saksi pernikahan kakak saya beberapa puluh tahun lalu. Kiprah dan perjalanan karir Pak Harmoko sangat menarik. Pernah bekerja sebagai wartawan Harian Angkatan bersenjata kemudian API di era pasca Gestapu (Pemberontakan G30S/PKI) di tahun 1965-an . Masa transisi era pemerintahan Soekarno (yang dianggap Orde Lama) ke Rezim Soeharto (yang disebut kemudian, Orde Baru). Saya bahkan memiliki copy edisi harian API yang kebetulan persis terbit  di hari kelahiran saya. Headline-nya menggambarkan chaos politik dan kegentingan “power relation” pasca transisi ORLA ke ORBA, termasuk demontrasi Mahasiswa (KAMI) menuntut diturunkannya pemerintahan Soekarno.

Di era tahun 1970an, Pak Harmoko mendirikan harian  “Pos Kota” sekaligus menjadi Pemimpin Redaksinya. Pos Kota menyajikan banyak peristiwa aktual dan faktual sekitar kehidupan keseharian hidup rakyat biasa.  Berita dan “headline”-nya didominasi oleh berita sensasional dan kriminalitas, sebagai “trade mark”-nya.

Dari perspektif teori jurnalistik, Pos Kota mengusung ide jurnalisme “koran kuning” yang menyasar golongan masyarakat “kelas bawah” di ibu kota.

Di masa muda saya, sering koran ini dijadikan “olok-olokan” pembicaraan dan candaan sesama teman yang dianggap kurang “intelektual” dengan kata-kata “Lu, kebanyakan baca koran Pos  Kota sih!” Atau “Jangan sampai “elu” masuk berita koran Pos Kota”. Pak Harmoko sendiri pernah berujar tentang koran yang didirikannya ini: “Pokoknya kalau bukan golongan menengah ke bawah, lebih baik jangan baca!.”

Meskipun demikian, koran yang kelahirannya disambut oleh Gubernur legendaris DKI, Bang Ali Sadikin itu, karena memang ditargetkan menjadi bacaan masyarakat Jakarta, merupakan pelopor jurnalisme baru Koran Kuning di Indonesia. Salah satu tulisan rutin di koran Pos Kota yang saya sukai adalah tulisan Wartawan Senior Rosihan Anwar, terkait kisah seputar Jakarta tempo dulu. Barangkali karena “kekuningan”(baca: sensasionalitasnya)-nya, oplahnya melejit. Termasuk salah satu koran beroplah yang besar di masanya. Oplahnya mencapai lebih dari 350,000 eksemplar per hari. Koran ini pula yang kemudian mengantarkan Harmoko, terpilih menjadi Ketua Umum PWI Pusat (Persatuan Wartawan Indonesia), sebelum kemudian didapuk menjadi Menteri Penerangan, beberapa periode di kabinet Pembangunan, era Pemerintahan Presiden Soeharto- hampir lima belas tahun (1983-1997). Di masa jabatannya sebagai Menteri Penerangan, Harmoko dikenal sebagai menteri yang tampil setiap hari di TVRI dan RRI mengumumkan harga komiditi sembako, beras, wortel  dan cabe keriting sebagai upaya menggerus para spekulan harga. Ia juga penggagas Kelompencapir-Kelompok Pendengar, Pembaca dan Pemirsa para Petani, medium tukar info dan pengetahuan di kalangan Petani dan Nelayan yang sering dihadiri Presiden Suharto. Selepas Menteri, Pak Harmoko terpilih menjadi Ketua Umum Golkar (jabatan yang sangat penting dan menentukan di kancah perpolitikan era ORBA dan menunjukan kedekatannya dengan Pusat Kekuasaan (Pak Harto). Partai Golkar yang juga identik dengan warna kuning ini, adalah Partai Politik yang memobilisasi para pegawai negeri,  pegawai BUMN, pekerja dan petani serta dukungan ABRI (TNI dan POLRI) yang masih berdwifungsi di era Orde Baru.  Partai ini selalu menjadi pemenang pemilu sejak Orde Baru lahir disetiap pemilu yang digelar setiap lima tahun sekali sejak tahun 1970an (meski orang agak meragukan kejujuran dan keadilan hasilnya-jika menggunakan parameter standar internasional demokrasi). Di masa kepemimpinannya, Golkar meraih suara terbanyak dan fantastis dalam sejarah pemilu Orde Baru, lebih dari 74% (74.51%) suara. Sebagai Ketua Umum Partai pemenang pemilu, Harmoko, kemudian terpilih menjadi Ketua MPR dan DPR. Beberapa  analisis politik bahkan memprediksi, Harmoko sebagai kandidat kuat untuk RI-2. Dalam posisi dan kapasitasnya sebagai Ketua MPR/DPR- hasil Pemilu 1997 yang dimenangkan Golkar.  – inilah Pak Harmoko mengesahkan pemberian mandat bagi Soeharto sebagai Presiden terpilih (kembali)  (pada Maret 1998), sekaligus ironisnya meminta Soeharto mundur dari jabatannya (19 Mei 1998)- hanya dua bulan setelah pelantikannya, menyusul demonstrasi besar-besaran mahasiswa di penjuru negeri yang menuntut diakhirinya kekuasaan Orde Baru setelah berkuasa lebih dari 30 tahun. Presiden Suharto kemudian memilih untuk mundur dua hari kemudian (21 Mei 1998). Harmoko, membaca perubahan tanda-tanda zaman. Secara tidak langsung memuluskan gerakan reformasi politik dan demokratisasi bergerak memulai dan menyusun agenda reformasi dan demokratisasi politik Indonesia.

Orang Perancis percaya “l’histoire se répète”. Sejarah itu selalu berulang. Ahad, 4 Juli 2021 Pak Harmoko telah wafat di RSAD Gatot Subroto Jakarta. Lewat peran dan peeralanan hidupnya telah memberikan kontribusi untuk negeri dan sejarah juga kenangan orang-orang disekitarnya. Terlepas kiprahnya dalam politik. Sebagai manusia, saya menyaksikan, beliau adalah orang yang baik, penuh perhatian dan  pemurah. Semoga Allah SWT menerima amalan baiknya dan mengampuni segala kesalahan dan kekhilafannya. (Tauvik M Soeherman, 4 Juli 2021)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here