Laporan : Zoel
MUARA ENIM, Jodanews-Dari hasil pantauan di lokasi akibat peledakan Blasting di lokasi tambang Banko Barat PIT II yang dilakukan PT.Sarana Bahana Wahana SBS, sub kontraktor PT.Bukit Asam persero Tbk. Tanjung Enim, sangat meresahkan warga di wilayah lingkungan Mandala RT.05/12 Kelurahan Tanjung Enim Kecamatan Lawang Kidul Wilayah ring 1 yang berdampak ledakan atau blasting batubara, Senin (10/4/2017).
Puluhan rumah yang saat ini mengalami retak-retak di bagian tembok yang bersumber dari ledakan di lokasi tambang Banko Barat. Ledakan ini sudah dimulai sejak akhir tahun lalu hingga sekarang yang rutinitasnya cukup tinggi selain itu pula dampak dari getaran ledakan sangat besar layaknya gempa.
Mayoritas yang tinggal di lingkungan Mandala khususnya di RT 05 RW 12 Kelurahan Tanjung Enim Kecamatan Lawang Kidul Muara Enim adalah buruh, sehingga secara ekonomi hidup hanya pas pasan,seperti beli semen satu sak untuk di tempel secara bertahap memperbaiki rumah tinggal, namun semua harus luluh lantah oleh Blasting atau peledakan batubara PT Bukit Asam Tanjung Enim.
Warga yang tinggal di sekitar lokasi Rukati, Sigit Purnomo dan Ahkmad Mustofa mengatakan, bahwa sejak banyaknya peledakan yang di lakukan perusahaan, rumah kami banyak yang retak hingga dua jari, dan sekarang sudah ditambal sendiri. takut roboh sementara pihak perusahaan yang katanya sudah melakukan pertemuan dengan masyarakat di Musholla beberapa bulan lalu hingga kini tak jelas kesimpulannya, “ungkap mereka.
Sementara Armin sebagai mantan ketua RT.05/12 lingkungan Mandala kelurahan Tanjung Enim, membenarkan bahwa sekitar sekitar 80 rumah yang terdampak ledakan dan baru sekitar 35 rumah yang terdata ditahap pertama dan ada lagi tambahan data dari warga yang belum melaporkannya,”ungkapnya. “Mengenai dampak blasting oleh subkon PTBA sudah cukup banyak rumah warga yang rusak, namum ada pula yang perbaikinya sendiri. Karena dari perusahaan terkesan mengulur rencana kompensasi. terbukti hingga kini tidak jelas kapan PTBA akan mengganti kerusakan rumah kami tambahnya.
Beberapa hari lalu memang ada perwakilan perusahaan, malah mereka menawarkan usaha kerajinan, peternakan, dan tampak enggan untuk membahas kompensasi rumah warga yang rusak. ini yang patut kami sesalkan. Lanjutnya, “bahwa kondisi rumah saya sudah hampir roboh dan saya tidak ada dana untuk merehabnya, kondisi ini sama juga yang dialami oleh pak Iwan, namun beliau memilih memperbaiki rumahnya karena takut jika roboh akan menghantam rumah tetangga. Kami tak banyak menuntut dengan perusahaan, apalagi menghalanginya, tapi tolong kalau bisnis jangan menghancurkan rumah kami yang dengan susah payah kami bangun,”pungkasnya. (Editor Jonheri)








