Home EKONOMI Pertumbuhan Ekonomi Sumsel di 2016 Melambat

Pertumbuhan Ekonomi Sumsel di 2016 Melambat

135
0

Laporan: ofie

[quote]Realisasi Tumbuh 4,78 Persen[/quote]

Palembang — Walau sempat mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup baik di triwulan II 2016, Ekonomi Sumatera Selatan (Sumsel) kembali tumbuh positif di triwulan III 2016 namun melambat.

Realisasi pertumbuhan ekonomi di triwulan III 2016 tumbuh sebesar 4,78 persen, lebih rendah dari realisasi pertumbuhan ekonomi di triwulan II 2016 yang berada pada level 5,13 persen.

“Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga dan investasi menjadi komponen terbesar penyumbang pertumbuhan di triwulan ini,” kata Kepala Tim Advisor Ekonomi dan Keuangan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Irfan Farulian, Kamis (16/12) di pertemuan Forum Wartawan Ekonomi dan Bisnis Sumsel di Hotel Melia Purosani Jogjakarta.

Progres percepatan pembangunan yang terus meningkat, event-event besar yang diselenggarakan di Sumsel dan hari besar keagamaan berdampak positif kepada kinerja kedua komponen tersebut.

“Namun demikian, dampak penghematan anggaran yang diberlakukan mulai awal Agustus berpengaruh terhadap rendahnya realisasi konsumsi rumah tangga jika dibandingkan dengan proyeksi,” lanjutnya.

Sementara itu untuk, Inflasi periode ini berada pada level 4,38 persen atau sedikit naik dari realisasi di triwulan II 2016 yang sebesar 4,37 persen.
Dengan kata lain, inflasi Sumsel masih lebih tinggi dari inflasi nasional yang tercatat sebesar 3,07 persen. Namun demikian, realisasi inflasi di triwulan III 2016 masih wajar yang tercermin dari realisasi inflasi kumulatifnya sebesar 2,42 persen.

“Kinerja ekonomi Sumsel masih tumbuh lebih baik. Hal ini tercermin dari indikator stabilitas keuangan daerah yang terus mengalami perbaikan. Kinerja kredit tumbuh positif Sedangkan DPK dan aset perbankan mengalami kontraksi,” ujarnya.

Ke depan, perekonomian Sumsel pada tahun 2016 diperkirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

Berdasarkan tracking pada triwulan III 2016, pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan mengalami revisi kebawah akibat adanya penyesuaian asumsi yang tidak sesuai dengan asumsi di awal periode.

“Beberapa risiko yang perlu diwaspadai adalah tekanan eksternal seperti risiko ketidakpastian dari hasil pemilu Amerika Serikat, risiko kenaikan suku bunga The Fed, Perlambatan ekspor akibat pengaruh dari Brexit, masih rendahnya harga komoditas dan pemotongan anggaran daerah serta kelangsungan pembiayaan pembangunan infrastruktur yang sedang berlangsung,” pungkasnya.

Sementara itu, sebelumnya pada kegiatan rutin yang digelar setiap tahunnya ini juga mengundang Bapak Agung Purwandono Pimpinan Redaksi Kedaulatan Rakyat Yogyakarta untuk menambah wawasan ekonomi tentang kota Yogyakarta.

Dimana tema yang diambil berupa penulisan berita ekonomi dengan penambahan konten kedaerahan. “Kota Yogyakarta ini PAD nya didapat dari UMKM, pariwisata dan pendidikan. Jadi memang pemanfataan apa yang ada di daerah digiatkan untuk menumbuhkan perekonomian,”kata Agung pada pertemuan Wartawan Ekonomi Sumsel ini.

Pertemuan ini diikutin oleh sejumlah media baik media lokal, nasional dan online yang selama ini aktif mengikuti edukasi perbankan setiap bulannya di kantor perwakilan Bank Indonesia Palembang.

Selain paparan perekonomian dan diskusi, awak media juga sempat diajak ke lokasi sentra cokelat binaan Bank Indonesia di Gunung Kidul, Yogyakarta dan menyempatkan diri mengunjungi tempat wisata yang cukup terkenal seperti candi Prambanan, pantai Indrayanti dan tak lupa menyaksikan sendratari di Ramayana Ballet Puriwisata. (editor: Elan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here